Sisyphus Effect : Momok untuk Pengaturan Ritme Kerja

Terbit pada Minggu, 15 Mei 2016

Sisyphus Effect, diambil dari sebuah mitos kuno dari Yunani. Konon ceritanya, Sisyphus adalah seorang raja dari Yunani. Akibat perbuatan yang dianggap sangat keji waktu itu, maka dia mendapatkan hukuman balasan atas perbuatannya.

Dia dihukum mendorong batu bulat yang besar ke puncak bukit dan kemudian membiarkan batu itu menggelinding lagi ke kaki bukit. Setelah itu, dia harus mendorong lagi ke atas dan membiarkannya untuk kemudian menggelinding ke bawah. Begitu seterusnya. Hukuman itu terus berulang dan tidak pernah ada ujungnya.

Dalam dunia kerja, Sisyphus Effect dianalogikan berbagai macam aktivitas dalam pekerjaan yang tidak pernah ada habisnya dan karyawan terjebak di dalam lingkaran itu. Aliran pekerjaan terus datang dengan tingkat urgensi yang berbeda-beda. Pada fase ini, karyawan seringkali merasa tidak berdaya dan kewalahan. Bahkan, dampak terburuknya adalah terjadinya demotivasi sehingga akan mengakibatkan kerugian pada perusahaan.

Selain itu, juga muncul faktor-faktor perusak konsentrasi kerja yang juga dapat menambah kerugian pada perusahaan. Salah satu contohnya adalah handphone. Dengan segala macam kecanggihan fitur yang dimiliki, alat tersebut dapat membuat karyawan lebih banyak menggunakan waktu kerjanya untuk menikmati kecanggihan fitur yang ada, seperti social media maupun instant messaging.

Hal tersebut tanpa disadari semakin membuat karyawan terjebak dalam lingkaran Sisyphus Effect! Sekarang, mari kita bayangkan dan rasakan bersama, bagaimana seandainya kita dalam posisi lingkaran Sisyphus Effect? Sangat melelahkan tentunya!

Untuk mengatasi hal ini, maka setiap karyawan membutuhkan kemampuan manajemen waktu yang baik. Global Text Project, dalam online course-nya mengemukakan pendapat yang dikutip dari Stephen Covey, penulis buku fenomenal yang berjudul, ‘The Seven Habits of Highly Effective People’, bahwa terdapat 4 klasifikasi utama dalam manajemen waktu kerja, yakni :

URGENT & IMPORTANTPekerjaan harus dilakukan saat ini juga.

URGENT BUT NOT IMPORTANTPekerjaan ini dapat dilimpahkan ke rekan atau bawahan.

IMPORTANT BUT NOT URGENTPekerjaan yang harus segera diselesaikan sebelum tingkat urgensinya menjadi Urgent & Important.

NOT URGENT & NOT IMPORTANTTidak ada kaitannya sama sekali dengan pekerjaan dan tanggung jawab. Aktivitas ini harus benar-benar dihentikan dan dijauhi selama bekerja.

Selain itu Global Text Project juga memberikan statement, bahwa dengan padatnya aktivitas kerja yang ada, kita harus memberikan waktu khusus untuk rehat sejenak supaya fokus kita tetap terjaga. Disarankan dalam jangka waktu 45-60 menit, kita harus melakukan break singkat untuk me-refresh pikiran. Bisa dengan sekedar berjalan melemaskan otot pinggang, melakukan stretching ringan atau hal-hal lain yang dapat membuat pikiran relaks, dengan tujuan dapat kembali bekerja lebih produktif.

Akan selalu ada pekerjaan yang muncul, mungkin 1 telepon lagi untuk dilakukan, 1 e-mail lagi untuk dikirimkan ataupun 1 surat lagi untuk diketik. Karena itu, sangat penting bagi kita untuk memutuskan kapan harus mengakhiri pekerjaan hari ini. Gunakan 30 menit terakhir untuk membuat rencana kerja keesokan hari, membereskan, dan merapikan dokumen kerja. (Rehandy Prismawan_ENERO, VER_Sekper)

Posted in Artikel

Terdapat 1 komentar

M. Kafi said on May 25, 2016
ho oh,,kliatannya aku juga kena sisyphus effect. kadang pikiran bisa terasa ngeblank gitu. info yang bermanfaat. sip..

Silahkan tambahkan komentar