Selamat Ulang Tahun PTPN X, Selamat Menghadapi Globalisasi (Bagian II)
Saat ini saja sebelum diterapkannya MEA, pabrik gula di Jawa sudah kebingungan dengan derasnya gula rafinasi. Gula rafinasi buatan Thailand bisa diterima oleh masyarakat kita karena harga lebih murah dan kualitasnya lebih baik. “Kuda hitam” Vietnam juga mulai mengancam, mereka sedang mengembangkan pabrik gula dengan teknologi terbaru. Belum lagi nanti jika pasar bebas di seluruh dunia diberlakukan, bagaimana menghadapi pesaing gula yang menguasai dunia seperti Australia, negara Amerika Latin, negara Karibia, dan negara Asia Timur?
PTPN X sebagai produsen gula lokal tentunya tidak akan tinggal diam dan akan mempersiapkan diri menghadapi MEA maupun pasar bebas dunia. Jangan sampai PTPN X musnah karena kalah bersaing. Jangan sampai di usianya yang ke 19 tahun sudah mati sebelum berkembang. Jangan sampai ulang tahun ke-19 menjadi ulang tahun “terakhir”. Pilihan bagi PTPN X hanya ada dua yaitu Berubah! Atau Musnah! Ini serius.
Mari kita tanya diri kita masing-masing sebagai karyawan PTPN X, bagaimana jika kita dihadapkan pada dua pilihan itu? Bagaimana jika hal tersebut benar-benar terjadi? Bagaimana jika pilihan tersebut bukan sebuah rayuan berlebihan dari pimpinan kita? Kita sedang membicarakan tentang kehidupan dan kematian sesungguhnya. Kehidupan dan kematian perusahaan kita.
Semua karyawan tentunya memilih berubah. Jika kita tidak melakukan semua perubahan tersebut, waktu kita akan segera habis lebih cepat dari yang seharusnya. Bisakah kita berubah ketika perubahan menjadi hal yang benar-benar penting? Atau ketika perubahan menjadi hal yang paling penting? Pasti jawaban semua karyawan PTPN X adalah “bisa”.
Mari lihat dulu kondisi nyata kita sekarang, apakah kita sudah siap berubah? Apakah kultur dan karakter kita siap menerima perubahan? Menurut Rhenald Kasali dalam epilognya pada buku “Jonan & Evolusi Kereta Api Indonesia”, BUMN pada umumnya mempunyai budaya guyub, lamban, dan rutin, serta tuna dinamis. Mereka adalah para pemimpin dan karyawan yang sudah lama “terprogram” dengan cara kerja lama yang rutin, yang mungkin sedang menikmati jabatan yang enak, sekedar meneruskan tradisi lama. Dan tidak dapat dihindari beberapa di antaranya mungkin menikmati penghasilan-penghasilan tertentu dari praktek-praktek yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Masalah utama kita sebetulnya bukan dari faktor eksternal, musuh terbesar kita adalah kalangan internal kita sendiri yang terus berada pada zona aman. Terperangkap dalam penjara mental dan sudah mendarah daging. Jika ingin mengubahnya ibarat seperti menegakkan benang basah. Sekilas kebisaaan-kebiasaan yang ada terlihat tidak mengganggu, santai, menyenangkan, dan tidak memaksa kita untuk keluar dari kenyamanan kita.
Namun tidak bisa tidak, kita harus segera menggantikannya dengan kebiasaan yang memaksa kita berpikir keras, bekerja lebih keras, dan menjalani tantangan yang berat. Perubahan ini menjanjikan kita masa depan yang lebih cerah. Perubahan itu akan datang dan bersiaplah untuk berubah, semakin lama kita menolak untuk berubah, semakin sulit bagi kita untuk bangkit. Semuanya bergantung pada kita sendiri. Nah, sekarang perubahan apa yang harus dilakukan terhadap SDM PTPN X untuk menghadapi MEA tahun depan? Berikut ini adalah beberapa masalah mendasar dalam mempersiapkan SDM menghadapi MEA beserta dengan solusinya.
Pertama, kurangnya pemahaman dan dukungan SDM. Paham saja belum, apalagi mendukung? Semua karyawan dari paling atas sampai paling bawah sepatutnya paham akan adanya MEA, dampaknya dan program-program yang akan dilaksanakan untuk menghadapinya. Semua harus terorganisir, ada target, dan jadwal karena mendesaknya waktu. Waktu persiapan tidak sampai 1 tahun. Kalau perlu ada ujian kelulusan bagi seluruh karyawan untuk lebih mempercepat pemahaman. Memang perlu energi besar untuk menyamakan persepsi baik direksi, general manager dan seluruh karyawan dengan segala hambatan dan perlawanannya. Istilahnya semua sudah 8S (seiya sekata serta setia saat situasi sedang sulit). Hasil dari pemahaman tersebut diharapkan sudah tidak ada lagi pertanyaan dari karyawan, misalnya mengapa perubahan harus dilakukan, mengapa efisiensi perlu dilakukan, serta apa akibatnya bagi perusahaan dan karyawan jika program tersebut gagal dilaksanakan. Hal ini juga akan menciptakan sense of urgency di kalangan karyawan. Arti kata “urgensi” adalah kepentingan yang mendesak. Ketika karyawan memiliki rasa urgensi maka mereka berfikir bahwa tindakan penanganan suatu masalah yang bersifat genting harus dilakukan sekarang. Bukan dilakukan dalam waktu dekat, besok, atau lusa. Tindakan yang dilakukan sekarang artinya akan ada kemajuan nyata setiap hari. Kemajuan significant dengan dukungan semua karyawan.
Kedua, adanya rasa takut berubah yang berlebihan. Ini adalah musuh yang memenjarakan kita dari niat untuk berubah. Sebenarnya yang ditakuti adalah ketidakjelasan dampak perubahan tersebut. Karena itu para karyawan harus dibuat bisa melihat pentingnya perubahan tersebut dari perspektif mereka, lebih jauh lagi mereka harus yakin bahwa perubahan itu menguntungkan. Ada banyak hal yang membuat kita takut berubah. Satu hal yang paling membelenggu dan penghambat perubahan adalah jawaban “sudah” pada setiap pertanyaan yang diajukan pimpinan kepada bawahan. “Saya sudah melakukan ini”, “itu sudah selesai saya benahi kemarin”, “program ini sudah sampai sekian persen”, dan kata “sudah” yang lain. Sepertinya kata ini adalah kata kunci zona aman. Kata sakti “asal bapak senang,” untuk meredakan kemarahan pimpinan. Jangan mudah percaya dengan kata “sudah” sebelum memastikan sendiri kebenarannya. (Ady Susanto_PG WT, OPI_Corcom)
Number 22 of The Best 30 LKTI 2015
Terdapat 0 komentar
Silahkan tambahkan komentar