PMN Rp 975 Miliar ke PTPN X Difokuskan untuk Industri Hilir Tebu
MOJOKERTO, 16 Februari 2015- Dana penyertaan modal negara (PMN) Rp 975 miliar yang digerojokkan ke PT Perkebunan Nusantara X (PTPN X) akan difokuskan untuk pengembangan produk hilir tebu, yaitu produksi bioetanol dan listrik.
Ketua Panitia Kerja PMN DPR RI Azam Azman Natawijana mengatakan, pihaknya sudah mengecek rencana investasi PTPN X untuk mengoptimalkan produk hilir tebu nongula. "Hari ini kami cek pabriknya. Sesuai rencana investasi yang disampaikan, dana PMN tersebut fokus ke industri hilir tebu. Jadi tidak hanya produksi gula, tapi juga ada bioetanol dan listrik dari ampas tebu," ujar Azam yang juga wakil ketua Komisi VI DPR saat mengunjungi pabrik bioetanol milik PTPN X di Mojokerto, Senin (16/2). Komisi VI membidangi masalah BUMN.
Anggota Komisi VI Abdul Wachid menambahkan, semua pabrik gula akan didorong untuk menghasilkan produk nongula yang kompetitif, terutama bioetanol dan listrik. Bioetanol dihasilkan dari olahan limbah cair tebu alias tetes tebu (molasses). Adapun listrik dihasilkan dari limbah padat tebu atau ampas tebu dengan program cogeneration.
"BUMN gula lain yang mendapat PMN kami harapkan bisa merintis pembangunan pabrik bioetanol seperti yang sudah dilakukan PTPN X dalam tiga tahun terakhir," ujarnya.
Dia berharap industri gula di Indonesia bisa seperti Brasil yang sudah terintegrasi dari hulu ke hilir. Di Indonesia, BUMN gula yang terintegrasi dengan bioetanol hanya ada di Mojokerto.
Seperti diketahui, PTPN X mempunyai pabrik bioetanol yang terintegrasi dengan Pabrik Gula Gempolkrep di Mojokerto, Jawa Timur. Produksi bioetanolnya berkualitas tinggi dengan tingkat kemurnian hingga 99,5 persen yang sangat ramah lingkungan dan memiliki angka oktan tinggi, yaitu RON (Research Octane Number) 117. Kapasitas produksi pabrik bioetanol itu mencapai 30.000 kiloliter per tahun. Bioetanol itu digunakan sebagai campuran bahan bakar minyak (BBM) untuk kendaraan bermotor.
Dirut PTPN X Subiyono mengatakan, tahun ini pihaknya melakukan investasi sebesar Rp 1,125 triliun, di mana Rp 975 miliar di antaranya didapatkan dari PMN. Adapun sisanya dari kas internal dan pinjaman perbankan. Investasi itu untuk membangun pabrik bioetanol, cogeneration untuk produksi listrik, dan peningkatan kapasitas pabrik gula.
PTPN X ingin membangun satu lagi pabrik bioetanol di kompleks PG Ngadiredjo, Kediri, dengan kapasitas yang sama dengan pabrik bioetanol di Mojokerto, yaitu 30.000 kiloliter per tahun. Bahan baku bioetanol dari tetes tebu PTPN X cukup melimpah. Dengan perkiraan produksi tetes tebu sebesar 292.500 ton, bisa dibangun satu lagi pabrik bioetanol berkapasitas 30.000 kiloliter per tahun.
"Produksi tetes tebu PTPN X bisa digunakan untuk dua pabrik bioetanol. Kami sudah punya satu di Mojokerto. Daripada tetes tebu kami jual mentahan ke pabrik pengolahnya seperti perusahaan bumbu makanan, akan jauh lebih menguntungkan jika kami mengolahnya sendiri. Karena itu, kami ingin mempunyai satu lagi pabrik bioetanol di Kediri," kata Subiyono.
Investasi pembangunan pabrik bioetanol di Kediri sebesar Rp 525 miliar yang diharapkan datang dari penyertaan modal negara Rp 450 miliar dan kas internal PTPN X Rp 75 miliar. Pembangunan dilakukan dalam dua tahun.
Pabrik bioetanol di kompleks PG Ngadiredjo Kediri itu diprediksi bisa menghasilkan pendapatan sebesar Rp 294 miliar per tahun yang terdiri atas penjualan bioetanol Rp 276 miliar dan penjualan karbondioksida (CO2) Rp 18 miliar. Itu dengan asumsi harga bioetanol Rp 9.200 per liter dan harga CO2 Rp 1.500 per liter.
Selain pabrik bioetanol, PTPN X juga akan membangun proyek cogeneration di tiga PG, yaitu PG Ngadiredjo (Kediri), PG Tjoekir (Jombang), dan PG Gempolkrep (Mojokerto). Cogeneration adalah program pembangkit listrik berbasis bahan baku ampas tebu (bagasse). Untuk cogeneration di PG Ngadiredjo berkapasitas 20 Megawatt (MW), PG Tjoekir 10 MW, dan PG Gempolkrep 20 MW. Total investasi tiga cogeneration itu adalah Rp 246 miliar.
Adapun peningkatan kapasitas pabrik gula akan dilakukan di PG Tjoekir (Jombang) dari 4000 ton tebu per hari (TTH) menjadi 4800 TTH dan PG Gempolkrep (Mojokerto) dari 6500 TTH menjadi 7200 TTH. "Kami akan optimalkan PMN, kas internal, dan pinjaman perbankan untuk memacu kinerja, terutama menyukseskan swasembada gula dan mendukung kedaulatan energi dengan pemanfaatan bioetanol guna mengurangi impor BBM," pungkas Subiyono.
Terdapat 0 komentar
Silahkan tambahkan komentar