Mencintai Komitmen, Merindukan Action: Dimulai dari Hal Kecil, Ada Sistem dan Pengawal Sistem (Bagian III)

Terbit pada Senin, 30 Maret 2015

Saya terpaksa menyediakan kopi tambahan karena diskusi malam itu semakin menarik. Ada dua pertanyaan besar, mengapa banyak target dan kebijakan tidak sukses? mengapa karyawan seakan enggan diajak melaksanakan kebijakan yang baik itu? Semua usulan pemecahan masalah dari peserta diskusi saya tulis dan saya menyimpulkannya menjadi 2 hal berikut:

 

  1. Lakukan dari hal kecil

Menurut saya, kalau hal-hal kecil saja belum bisa kita lakukan dengan benar, apalagi melakukan hal-hal yang besar. Misalnya saja menghemat kertas di kantor, mematikan computer, AC, dan lampu kamar kerja ketika ditinggal makan siang, datang ke kantor tepat waktu, melakukan makan siang dengan jadwal sesuai jam istirahat yang diberikan, dan makan pagi di rumah dengan tidak mengurangi waktu kerja di kantor. Membuang sampah pada tempatnya, memakai seragam dengan benar, membersihkan lingkungan kerja setiap datang dan pulang, tidak merokok di sembarang tempat, dan tidak banyak ngobrol ngalor ngidul dalam jam kerja.

 

Seorang teman yang paling gemuk di antara kami yang dari awal diam saja langsung menyahut dan mengatakan bahwa semua hal yang saya sebutkan itu sama sekali bukan hal baru. Memang benar semua hal itu bukan hal baru. Atasan kita, para konsultan, dan semua orang baik di sekitar kita menasehatkan hal yang sama. Pertanyaannya sekarang sudahkah kita mempraktekkannya selama ini? Jika belum maka tidak ada gunanya kita melangkah ke hal baru, melangkah ke hal-hal besar. Menjadi perusahaan world class company, perusahaan yang maju dan berkembang bersama stakeholder, perusahaan pecinta lingkungan, dan visi misi yang sering kita dengungkan itu. Sebab, hal-hal kecil yang sudah sejak lama kita ketahui saja ternyata tidak mewujud dalam keseharian kita selama ini. Padahal, segala sesuatu yang besar sesalu diawali dari satu langkah kecil. Jika untuk hal kecil saja kita keberatan melakukannya, bagaimana kita bisa berkorban dengan sesuatu yang besar bagi perusahaan?

 

Ibaratkan saja sebuah target besar itu adalah buah nangka. Untuk menikmati buah nangka, kita harus membelah buah nangka besar yang utuh menjadi potongan kecil-kecil, baru kita bisa mengambil buahnya dan menikmatinya. Sama halnya, bila kita ingin menyelesaikan sebuah target yang besar, pilah-pilah target itu menjadi potongan target yang kecil-kecil, lalu capai satu persatu. Bila target-target kecil bisa terselesaikan, target besar pasti bisa dinikmati.

 

Kalau hal kecil saja kita belum bisa, bagaimana kita menghadapi pesaing kita yang mulai merajalela? Bagaimana mau menghadapi MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) akhir tahun ini?

 

  1. Sistem yang mengatur dan ada pengawal sistem

Menjelang jam 12 malam saya mengusulkan diskusi diakhiri karena besok semua harus bekerja. Namun sebelum berakhir, saya mengajukan pertanyaan kepada semua yang hadir. Andai saja karyawan perusahaan ini yang kurang tertib, suka bolos, egois merokok di mana-mana, suka mengambil barang yang bukan haknya, dan sering terlambat masuk kerja dikirim ke Singapura untuk bekerja dan hidup satu minggu saja di sana. Sebaliknya juga, sekelompok pegawai dari Singapura yang terkenal disiplin dikirim ke perusahaan ini untuk menjadi karyawan. Kelompok manakah yang akan menunjukkan sikap dan perilaku lebih tertib dan baik?

 

Ternyata, tanpa berpikir panjang, semua teman menjawab kelompok pertama yaitu karyawan yang di perusahaan ini kurang tertib dan disiplin. Mengapa? Semua menjawab, Singapura mempunyai sistem yang baik. Sistem itu tidak hanya mencakup fasilitas infrastruktur yang baik, tetapi aturan main yang jelas. Memang, semua sarana dan prasarana fisik dibuat senyaman mungkin untuk memudahkan karyawan. Namun, lebih dari semua itu, karyawan yang melanggar peraturan akan mendapat sanksi yang jelas tanpa ampun. Tidak ada istilah permisive ataupun kompromi terhadap peraturan. Sedangkan permasalahan di perusahaan ini adalah adanya “tawar menawar” terhadap peraturan yang ada, SOP kalah dengan kompromi dan “pembiaran” terhadap kesalahan. Tidak ada yang peduli apalagi mendapat sanksi.

 

So, kata teman saya yang paling pinter Bahasa Inggris, “the winning is in the system”. Sistemlah yang akan mengatur dan mengelola perilaku kolektif manusia. Namun, bukankah peraturan, Perjanjian Kerja Bersama (PKB), code of conduct, SOP, SMP dan banyak instruksi kerja sudah siap semua? Mengapa masih banyak hal tidak tertangani dengan baik?

 

Memiliki peraturan tidak identik dengan mempunyai sistem. Lebih dari sekedar peraturan, sistem mensyaratkan komando pelaksanaan dari peraturan tersebut pula. Jika sudah demikian, pengawal sistem yang utama adalah para pemimpin itu sendiri. Pantaskah ditanya, apakah para manajer kita sudah menjadi komandan implementasi peraturan yang mereka ciptakan sendiri? Saya masih melihat seorang pemimpin berteriak dilarang merokok tetapi dia sendiri merokok seenaknya. Suatu ketika ada seorang pemimpin menyalahkan anak buahnya yang tidak pakai seragam olahraga pada waktu senam namun dia sendiri memakai celana jeans. Seorang manajer menggiatkan apel pagi tepat waktu pukul 06.30 WIB namun dia terlambat datang. Sudah ada peraturan bahwa parkir harus di tempat yang ditentukan namun sang manajer malah parkir mobilnya di depan kantor. Itu baru pelanggaran kecil, belum pelanggaran sistemik misal pada pelaksanaan tender, SOP, dan dalam rekrutmen tenaga kerja.

 

Bagaimana sistem bisa berjalan baik? Semua dimulai dari pemimpinnya. Disiplin adalah ciri profesionalitas dan “no discipline no power”. Mudah-mudahan kita tidak menjadi karyawan seperti puisi di atas, dan timbul pertanyaan “sebenarnya untuk apa kita ada?” (Ady Susanto_PG WT, OPI_Corcom) <end>

Number 11 of The Best 30 LKTI 2015

Referensi:

Darmawangsa, D., 2008, Champion, 101 Tip Motivasi dan Inspirasi Sukses Menjadi Juara Sejati, PT Elex Media Komputindo (kelompok Gramedia), Jakarta

Goestiandi, E., tahun tidak tercantum, Buku 1 # 50 Artikel Seri manajemen dan Organisasi: Ikan kok Disuruh Terbang, Kontan Publishing, Jakarta

Goestiandi, E., tahun tidak tercantum, Buku 2 # 50 Artikel Seri Kepemimpinan: Do What I Say, but..., Kontan Publishing, Jakarta

Goestiandi, E., tahun tidak tercantum, Buku 3 # 40 Artikel Seri Pengembangan Pribadi: Profesional atau Budak?, Kontan Publishing, Jakarta

Goestiandi, E., & Pareanom, Y.A., 2012, Pembelajaran T.P. Rachmat, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Gwee, J.,2012, Setiap Karyawan Harus Baca Buku Ini!, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Kadarusman, D., 2010, Natural intelligence 1 # 50 Cerita Inspiratif Menyentuh Hati dan Mencerahkan: Melampaui Keserakahan Seekor Nyamuk, Penerbit Raih Asa Sukses (Penebar Swadaya Group), Jakarta

Kadarusman, D., 2010, Natural intelligence 2 # 50 Cerita Inspiratif Pemacu Semangat Kerja dan Pembangkit Jiwa Kepemimpinan: Ketika Kuda, Semut, dan Gajah Bekerja, Penerbit Raih Asa Sukses (Penebar Swadaya Group), Jakarta

Kadarusman, D., 2010, Natural intelligence 3 # 50 Cerita Inspiratif Penyemangat Hidup dan Penyeimbang Jiwa: Ternyata Semutnya Ada Di sini, Penerbit Raih Asa Sukses (Penebar Swadaya Group), Jakarta

Kasali, R., 2015, Self Driving, Menjadi driver Atau Passenger?, Penerbit Mizan, Jakarta

Liong, F., 2013, Morning Briefing @work!, Bagaimana Menggunakan Morning Birefing Untuk Mengubah Pola Pikir, Perilaku dan Kebiasaan Kontra-Produktif Anak Buah Anda?, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Poniman, F., Nugroho, I., dan Azzaini, J., 2008, Kubik Leadership, Solusi Esensial Meraih Sukses dan Hidup Mulya, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Pradiansyah, A., 2014, Life Is Beautiful, Sebuah Jendela Untuk Melihat dunia, PT Elex Media Komputindo (kelompok Gramedia), Jakarta

 

 

Posted in Artikel

Terdapat 0 komentar

Silahkan tambahkan komentar