Mencintai Komitmen, Merindukan Action: Dimulai dari Hal Kecil, Ada Sistem dan Pengawal Sistem (Bagian II)
Salah satu teman yang paling muda di antara anggota PASUKAN PELEM menambahkan, tahun lalu bud chips begitu membahana, sekarang tinggal kenangan. Mengapa kompos yang begitu bermanfaat juga tidak ada aktifitas? Membuat pabrik kesulitan membuang blothong (filter cake) dan abu. Ada pula pembentukan berbagai macam tim di pabriknya, ada tim produktivitas yang dia sendiri tidak paham apa yang harus dilakukan, tim kreatif yang berisi karyawan-karyawan muda dengan maksud untuk memunculkan ide-ide segar, tim HPP (harga pokok produksi) untuk mengurangi biaya operasional, tim limbah namun hanya satu bagian yang bekerja, dan banyak tim lain yang pernah dicetuskan. Terbaru adalah team inhouse keeping, alhamdulillah pabrik menjadi bersih namun tiba-tiba menjadi sangat bersih ketika ada kunjungan. Persyaratan wajib ISO dan SNI bagi pabrik gula, mudah-mudahan tidak tinggal sertifikatnya saja tetapi perilaku di lapangan tidak berubah. Mudah-mudahan program sebagus mekanisasi pertanian, Enterprise Resource Planning (ERP) yang sedang berlangsung dan berbiaya mahal tidak senasib dengan program-program sebelumnya yang tinggal kenangan.
Seorang teman mandor senior yang baru 2 minggu ikut rembug di PASUKAN PELEM bertanya dengan memperlihatkan wajah pesimis, apakah komitmen, janji, sumpah, pelatihan, outbond, pembentukan tim atau apapun namanya itu akan bertahan lama? Ramai sebentar namun tak lama kemudian hilang. Semangat hanya membahana pada saat itu, beberapa minggu kemudian dilupakan. Yang tersisa hanya spanduk, monumen, sertifikat pelatihan, dan pigura penuh tandatangan namun tanpa ada kejelasan kelanjutannya. Keraguan teman saya itu bukannya sebuah skeptisme tak berdasar, menilik sudah banyak gerakan serupa yang berakhir seperti angin. Nyaris tak berbekas! Ternyata hal Itu tidak hanya terjadi pada hal-hal besar dengan target besar yang banyak tantangan untuk pencapaiannya. Ternyata untuk hal-hal kecil juga tidak berjalan dengan baik.
Sebuah contoh gerakan kecil, misalnya larangan parkir di sembarang tempat. Sempat tertib pada satu minggu pertama, diikuti penggembosan ban sepeda yang parkir sembarangan. Selanjutnya yang terjadi adalah kucing-kucingan dengan petugas (satpam) yang merazia parkir. Dilarang parkir di sana, pindah parkir di sini, sampai tidak ada lagi yang mengingatkan dan merazia kendaraan, parkir di mana saja bahkan masuk dalam pabrik. Itu masih dalam hal parkir, dalam hal berseragam juga tidak jauh beda. Tiap tahun diberi seragam baru namun tiap hari waktu berangkat kerja tidak pernah memakai seragam sesuai jadwalnya. Belum lagi aturan jam kerja! Sangat mudahnya dilanggar.
Ada suatu kejadian yang membuat tertawa, ada pengumuman bertuliskan “Dilarang membuang sampah di sini” namun satu meter dari pengumuman itu menumpuk sampah. Ketika diingatkan kalau tidak boleh membuang sampah di situ, jawaban dari sang tersangka di luar dugaan, “Lho tidak boleh buang sampahnya kan di sini (sambil menunjuk di bawah pengumuman), lha di situ kan tidak dilarang (sambil menunjuk tumpukan sampah yang berjarak satu meter dari pengumuman). Paling sulit adalah mengendalikan perokok, kecenderungan mereka itu egois dan menang sendiri. Tulisan dilarang merokok hanya sebagai pajangan. Dari diskusi yang mulai memanas itu akhirnya timbul sebuah pertanyaan: “Apakah karyawan perusahaan ini memang tidak bisa dididik untuk disiplin?”
Seorang teman yang pernah pergi ke Singapura menolak pertanyaan tersebut. Dia bercerita bahwa orang Indonesia ketika menginjakkan kakinya di Singapura dapat bersikap dan berperilaku disiplin dengan sangat baik. Ketika di bandara Juanda mereka masih saja ada yang saling serobot, di bandara Changi mereka sangat sopan untuk antre. Mereka tidak buang sampah sembarangan, mengantre kendaraan umum dengan tertib, serta hanya merokok di tempat yang sudah ditentukan. Jika demikian halnya, apa yang salah? Orang yang sama dapat bertindak-tanduk sedemikian berbeda di dua negara bertetangga. (Ady Susanto_PG WT, OPI_Corcom)
Number 11 of The Best 30 LKTI 2015
Terdapat 0 komentar
Silahkan tambahkan komentar