Kontribusi Manajemen Inprovisi PTPN X dalam Mengelola Karyawan: Upaya Optimalisasi Produktivitas Perusahaan (Bagian III)
Pegawai yang Visioner
Ada empat komponen atribut pokok organisasi perusahaan yang harus segera diperbaiki jika ingin tetap eksis dalam kancah persaingan global, yakni (1) berorientasi pada pelanggan dan kualitas (customer and quality driven), (2) efektivitas pendapatan dan biaya (revenue and cost effective), (3) kecepatan dan fleksibilitas dalam merespon perubahan pasar (fast and flexible in responding to market changes), dan melakukan inovasi secara berkelanjutan (continually innovating).
Pegawai yang berdaya akan banyak memberi keuntungan, baik dirinya sendiri, kelompok, dan terlebih lagi bagi organisasi. Dalam jangka panjang, pegawai yang diberdayakan akan memberikan gagasan dan inisiatif bagi organisasi dalam menyelesaikan setiap permasalahan yang dihadapi. Kepedulian dan rasa memiliki (sense of belonging) yang tinggi terhadap berbagai isu dan permasalahan organisai, disadari atau tidak hal itu merupakan bentuk nyata sumbangan pemikiran pegawai yang sangat mahal dan tak ternilai. Namun semangat pegawai dalam menuangkan ide dan gagasan dalam bekerja harus dipandu dengan bekal visi dan misi organisasi yang kuat. Hal ini penting karena visi sebagai sesuatu harapan, keinginan, citia-cita, harus dipahami dan dimengerti oleh seluruh anggota organisasi agar dalam mewujudkan visi tersebut tidak mengalami salah arah yang mengakibatkan kegagalan.
Secara sederhana, visi dapat diterjemahkan sebagai masa depan yang realisits, dapat dipercaya, dan menarik bagi organisasi, Burt Nanus, (1981:9). Masih menurut Nanus, visi merupakan pernyataan tujuan, sebuah masa depan yang lebih baik, lebih berhasil, atau lebih diinginkan dibandingkan dengan kondisi sekarang. Visi seorang pemimpin pada dasarnya akan dapat menumbuhkan motivasi dan menginspirasi setiap tindakan bawahan dalam melaksanakan tugas yang diberikan pemimpinnya. Secara lebih luas visi seorang pemimpin dapat membantu membentuk masa depan organisasi yang dipimpinnya.
Sinergisitas Perusahaan
Sebuah perusahaan yang berdaya akan dipenuhi oleh orang-orang yang memiliki kepedulian dan keterlibatan yang dapat membantu usaha pencapaian fleksibilitas, responsivitas terhadap pelanggan, dalam lingkungan bisnis yang menantang dan kompetitif. Seperti dikatakan oleh Ken Blancard, 2002, bahwa pemberdayaan sebagai suatu cara untuk memwirausahakan (entrepreneurship) orang lain, penanaman rasa memiliki (ownership), suatu bentuk ikatan kerja atas dasar komitmen (engagement), dan sebagai suatu usaha untuk membuat orang lain terlibat (involvement).
Pemberdayaan diartikan sebagai membagi kekuasaan (power sharing) atau mendelegasikan kekuasaan dan wewenang kepada bawahan di dalam organisasi (Daft, 1999). Dalam definisi lain oleh (Luthan, 1995), dalam Triantoro Safaria, (2004:210), dikatakan bahwa pemberdayaan adalah wewenang untuk membuat keputusan dalam kegiatan operasional individual tanpa harus memperoleh persetujuan dari siapapun.
Sistem nilai yang dianut organisasi seperti kejujuran, keterbukaan, dan kebersamaan menjadi jembatan antara pemimpin dengan pemimpin, bawahan dengan bawahan, dan pemimpin dengan bawahan dalam proses pelaksanaan pemberdayaan bagi organisasi. Pola hubungan pemimpin dengan bawahan dan sebaliknya, jika tidak dilandasi atas nilai-nilai organisasi yang disepakati, maka dalam memberikan kesempatan, pemberian izin, dan memampukan pegawai akan mengesankan sikap subjektif dan perasaan ketidakadilan antar anggota organisasi.
Pegawai yang memiliki kapabilitas, kemauan, dan kesempatan sudah semestinya diberikan ruang untuk menjalankan tanggung jawabnya secara otonom. Selain itu, pegawai juga harus dilibatkan dalam membuat perencanaan, pengorganisasian, pengelolaan pekerjaannya agar lebih efektif dan efisien, Gery Dessler, (1997:285). Pada dasarnya, pegawai dalam suatu organisasi akan merasa berdaya jika kepadanya mampu (1) memperoleh informasi secara lengkap dan benar, (2) menerima otoritas dan memahami tanggungjawab secara jelas, dan (3) memahami persoalan yang diberikan pimpinan sekaligus mampu mencari solusinya. Bentuk-bentuk aktualisasi pegawai yang dapat mengoptimalkan peran dan fungsinya sebagai usaha pemberdayaan, akan membantu organisasi mencapai tujuan.
Dalam proses pemberdayaan pegawai suatu organisasi, menurut Johnson dan Redmond, (1998:10), sedikitnya melalui tahap (1) proses diseminasi informasi (informing), tahap (2) proses konsultasi (consulting), tahap (3) proses pengumpulan ide (sharing), tahap (4) proses pendelegasian (delegating), dan tahap (5) proses pemberdayaan (empowering). Secara lebih rinci kelima proses pemberdayaan di atas dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut:
Tahap |
Sasaran (objek) |
Diseminasi Informasi (informing)
|
Segala sesuatu yang berkaitan tugas dan tanggungjawab pegawai dan hal-hal yang menentukan seperti informasi tentang: problem yang dihadapi dan perubahan yang mungkin terjadi, taktik dan strategi perusahaan, target yang harus dicapai, dan kondisi perusahaan saat ini; |
Konsultasi (consulting) |
Berbagai masalah yang dihadapi oleh pegawai dalam kaitan tugas dan tanggungjawabnya yang belum dimengerti dengan jelas seperti: ketentuan upah, ketentuan gaji, dan hasil penilaian kinerja; |
Pengumpulan Ide (sharing) |
Share pendapat atau ide tentang hubungan antar job dan bagaimana mengatasi problem yang terjadi dalam hubungan tersebut, ide tentang inovasi, perubahan, dan share dalam pengambilan keputusan; |
Pendelegasian (delegating) |
Mendefinisikan dengan jelas tentang tugas dan tanggungjawab, otoritas pengambilan keputusan, peluang bagi aktualisasi diri dalam konteks wewenang dan tanggungjawab; |
Pemberdayaan (empowering) |
Kualitas diri sebagai intelectual capital yang memiliki keunggulan (human resource champion) dengan kompetensi dan komitmen yang tinggi terhadap tugas dan tanggungjawabnya. |
(Muhammad Yusroni_Penelitian Tembakau Klaten, OPI_Corcom) <end>
Number 14 of the Best 30 LKTI 2015
DAFTAR PUSTAKA
Burt Nanus, 2001. Kepemimpinan Visioner, Penhalindo, Jakarta.
Gary Dessler, 1997. Human Resource Management, Prentice Hall, USA.
Hadari Nawawi, 1997. Manajemen Sumber Daya Manusia untuk Bisnis yang Kompetitif, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta
Henry Simamora, 1997. Manajemen Sumber Daya Manusia, STIE YKPN, Yogyakarta
Jusuf Suit, Almasdi, 1996. Aspek Sikap Mental dalam Manajemen Sumber Daya Manusia, Ghalia Indonesia, Jakarta
Ken Blancard, 2002. Empowerment (Take More Than a Minute), Amara Books, Yogyakarta
Mulyadi, Johny Setyawan, 2000. Sistem Perencanaan dan Pengendalian Manajemen, Aditya Media, Yogyakarta
Safarudin Alwi, 2001. Manajemen Sumber Daya Manusia (Strategi
Keunggulan Kompetitif), BPFE Yogyakarta.
Triantoro Safaria, 2004. Kepemimpinan, Graha Ilmu, Yogyakarta.
http://bisnisukm.com/tips-sukses-meningkatkan-potensi-karyawan.html
http://ruangpsikologi.com/sosial/meningkatkan-kreatifitas-karyawan/#ixzz3RlmgWVfP
http://www.rahmatst.com/4-cara-meningkatkan-produktivitas-karyawan/
Terdapat 0 komentar
Silahkan tambahkan komentar