Internet dan Insensitivity Phenomenon

Terbit pada Selasa, 27 Januari 2015

Internet awalnya digunakan oleh militer Amerika Serikat pada tahun 1969 untuk melakukan komunikasi jarak jauh dengan jaringan telepon [wikipedia]. Lalu kemudian berkembang surat elektronik dan media komunikasi yang lain. Perkembangan selanjutnya adalah dibuatnya media sosial yang saat ini banyak diminati. Tujuan dari internet adalah untuk mempermudah komunikasi dan sharing knowledge. Seperti diciptakannya produk science lain, internet tentu saja dibuat untuk perkembangan dan kemajuan peradaban manusia, yang tentu saja harus bernilai positif.

 

Namun saat ini ada pergeseran tujuan dari internet itu sendiri. Pergeseran tersebut tidak bisa dipungkiri akibat sosial budaya masyarakat yang berubah akibat internet. Saat kecil dahulu, kita tidak pernah mendengar trending topic dari tweet kita di twitter adalah sebuah prestasi, atau ribuan like di facebook adalah kebanggan. Kita juga tidak pernah mendengar jumlah subscribe video youtube adalah sebuah pencapaian yang luar biasa. Namun saat ini, hal - hal di atas adalah ukuran popularitas malah justru menjadi value dari seseorang. Tidak sedikit dari para netizen sebutan dari parapengguna internet, yang menggunakan banyak cara untuk meraih itu. Sayangnya dari cara tersebut ada beberapa yang sebenarnya tidak sesuai dengan etika komputer. Padahal bagi professional TI sendiri, khususnya yang pernah studi dibidang TI, etika komputer adalah salah satu mata kuliah wajib yang harus diperhatikan dalam mengembangkan teknologi informasi.

 

Salah satu dampak negatif yang muncul akibat internet adalah gejala yang disebut “Insensitivity Phenomenon” atau “fenomena ketidakpekaan”. Kita mungkin banyak melihat gejala seperti ini di internet. Berikut adalah contoh yang termasuk “Insensitivity Phenomenon.

  1. Curhat di media sosial

Sebelum ada media sosial, kiat mengenal buku harian atau diary untuk mencurahkan segala kegiatan dan perasaan kita di dunia nyata. Dengan menulis buku harian, akhirnya seseorang terbiasa dalam menulis dan menjadi penulis hebat nantinya. Namun masalah-masalah pribadi tidak pernah muncul untuk dibeberkan hanya untuk mendapat simpati atau belas kasihan orang lain. Kita tak pernah mendengar cerita pribadi Hilman Hariwijaya, sang legenda penulis novel remaja Indonesia kala itu. Namun kita selalu setia menunggu novel Lupus dan Olga– nya setiap edisi baru muncul. Saat ini, kebanyakan orang curhat di media sosial. Padahal orang lain sebenarnya tidak ingin membaca atau mau tahu tentang masalah pribadi kita yang cenderung tidak terlalu penting. Padahal sudah seharusnyalah kita menjaga diri dari fitnah dengan tidak terlalu banyak mengumbar masalah pribadi di internet.

 

  1. Like doesn’t help

Kita sering melihat broadcast atau tulisan di status yang menampilkan beberapa gambar kemanusiaan dan meminta di – like. Contoh seperti gambar berikut :

Gambar seorang anak yang harus diamputasi akibat konflik di Afrika, dan pembuat tulisan meminta like dengan jargon 1 like = 1 pray atau 1 like = 1 hope. Kemanusiaan kita bergeser dari simpati yang harus diikuti dengan perbuatan tapi malah justru hanya dengan simbol. Pemberian like tidak membantu apapun dari kejadian tersebut, kecuali hanya untuk mempermalukan objek gambar di depan publik. Kemanusiaan yang sudah diajarkan kepada kita sejak kecil tentang membantu orang lain tanpa pamrih dan ikhlas, bergeser kepada simpati kosong yang tidak berarti. Like doesn’t help adalah gerakan yang dilakukan oleh beberapa netizen yang peduli terhadap etika komputer dan dampak negatifnya bagi kehidupan. Gerakan tersebut bahkan di motori oleh banyak profesional TI sendiri.

 

  1. No Action Tweet Only

Pada saat kejadian terbakarnya Pasar Klewer Solo, petugas pemadam kebakaran mengeluhkan tentang banyaknya warga yang menutup akses petugas ke lokasi hanya untuk mengambil gambar. Warga tersebut adalah para pemburu like atau retweet untuk meningkatkan popularitasnya di dunia maya. Simpati yang keliru semacam ini memunculkan generasi yang terlalu narsis yang sebenarnya tidak terlalu memberi efek positif bagi orang lain. Padahal yang benar - benar dibutuhkan dalam kemanusian adalah aksi dan bukan hanya sekedar tweet seperti pada ulasan awal.

 

Akhirnya kita tenggelam dalam inovasi yang kita buat sendiri. Padahal menjadi manusia bukan hanya untuk menjadi diri sendiri, menjadi manusia berarti harus berguna bagi orang lain. Sebelum menjadi bagian positif dari peradaban dan sosial manusia lainnya, kita tak lebih dari sekedar makhluk hidup saja. Internet dan media sosial memang berguna dan memiliki banyak efek yang positif. Tapi seperti inovasi lainnya, teknologi selalu menjadi pedang bermata dua. Jangan sampai kemanusiaan dan kepekaan kita hilang karena internet. Teknologi yang seharusnya bisa membawa dampak positif dan bermanfaat untuk khalayak ramai. (M. Syaiful Rizal_IT, OPI_Corcom)

Posted in Artikel

Terdapat 1 komentar

Bang Ocip said on Feb 02, 2015
Like doesnt help...setuju

Silahkan tambahkan komentar