Berubah atau Mati (Bagian I)
We need to Change, Seriously!
Heraclitus seorang sejarawan Yunani pernah mengungkapkan sebuah kalimat filsafat yang terkenal hingga saat ini “You never step in the same river twice”. Kebanyakan sejarawan menafsirkan bahwa yang dimaksud dari kalimat diatas adalah perubahan situasi, suasana, lingkungan, dan kehidupan yang disimbolkan dengan kata “river”. Saya setuju dengan pendapat itu, namun saya lebih setuju dengan sebuah ulasan dalam buku Making Sense of Change Management karya Mike Green yang menyatakan bahwa penegasan dari kalimat Heraclitus tersebut adalah “you” bukan “river”. Perubahan adalah kondisi yang pasti akan terjadi karena ketika “you” yang pertama menyeberangi sungai pasti akan berbeda dengan kondisi “you” yang menyeberangi kedua kalinya. Perubahan tidak bisa dihindarkan, sejalan dengan proses kehidupan, bahkan dalam hitungan detik setiap pribadi, kelompok, atau objek apapun di dunia pasti akan berubah. Ada ungkapan barat yang menyatakan “The Only Constant is Change”, tidak ada satupun yang abadi di dunia ini kecuali perubahan itu sendiri.
Sekitar tahun 1990-an, pajangan paling bergengsi yang dapat ditemukan di belakang meja kerja seorang direktur adalah deretan rapi Ensiklopedia Britannica, yang tebal terdiri dari 20 seri. Saat ini, para direksi jarang membeli buku ensiklopedi, karena ensiklopedi lengkap dapat dengan mudah diakses dalam bentuk digital melalui perangkat komputer, Ipad, Tablet, dan sebagainya. Beberapa tahun ini, kita sibuk melihat “baku hantam” antara perusahaan smartphone Apple dan Samsung. Namun keadaan berubah ketika muncul “anak baru” yang membuat keduanya kebakaran jenggot : Xiomi. Bos Smartphone asal Cina tersebut bahkan sesumbar bahwa produknya lebih baik daripada Iphone dimana pabriknya (Foxcon) juga berada di Cina. Perubahan yang menarik juga terjadi di perusahaan BUMN Telkom yang dulunya hanya melayani jasa jaringan telpon “dipaksa” bertransformasi mengikuti perkembangan zaman dan menghadirkan jasa akses internet (Telkomnet Instan dan Speedy), jaringan telpon selular (Flexy), dan layanan TV kabel (Use TV dan Yes TV). Intinya tidak ada hal statis. Dinamika di dunia bisnis menuntut semua pelaku di dalamnya terus berubah, menyesuaikan diri. Tidak ada perubahan yang dapat dipertahankan tanpa melakukan pembaharuan. Lingkungan berubah, dunia berubah, dan jika kita masih terjebak pada status quo, bersiaplah untuk tertinggal dan gulung tikar.
Mengapa Harus Berubah ?
Mengapa harus berubah, jika hidup pada saat ini sudah terasa enak, segalanya mudah, perut kenyang, dan kemenangan demi kemenangan telah diraih? Salah satu alasan yang paling masuk akal adalah kenyataan bahwa bumi itu bulat, segalanya berputar, berganti dan berubah. Kemenangan yang sekarang ada digenggaman akan segera menjadi bagian dari masa lalu. Pencapaian yang saat ini terkesan super akan segera basi, dan kitapun dituntut untuk mencari jalan lain untuk mencetak kemenangan–kemenangan baru.
Menurut pakar manajemen Rhenald Kasali, mereka yang terbuai dengan kemenangan masa lalu akan menjadi bagian dari masa lalu. Tidak akan mendapat tempat di masa yang akan datang. Persoalan demi persoalan yang datang menuntut seseorang atau sebuah perusahaan ntuk melakukan sesuatu yang berbeda dari yang pernah dilakukannya. Jika asalan tersebut belum cukup maka berikut adalah alasan–alasan bagus untuk mengambil langkah perubahan.
Perubahan = Pertanda Kehidupan
Manusia hidup dalam perjalanan dari suatu kondisi kepada kondisi lainnya. Hari ini, ia adalah bayi kecil yang hidupnya bergantung kepada sang ibu, esok hari, ia menjadi anak kecil yang berjalan, melangkah, dan berlari walaupun sesekali jatuh, beberapa bulan kemudian kakinya telah kuat untuk dibawa berlari. Beberapa tahun kemudian, ia menjadi dewasa yang menghadapi masalah, kesenangan, tertawa, dan menangis. Arie de Geus dalam bukunya The Living Company (1997) mengibaratkan perusahaan tak ubahnya seperti sosok makhluk hidup, alias The Living Organism. Perusahaan pun dilahirkan, menjadi besar, bisa sakit, dan menjadi tua. Panjang dan pendeknya umur perusahaan bergantung kepada kemampuan beradaptasi dan mengikuti perkembangan zaman. Berubah atau Mati!
Perubahan Membawa Harapan
Di satu sisi, perubahan dapat mencemaskan orang paling cemerlang sekalipun. Begitu juga bagi perusahaan, ketika tercetus kata perubahan, para eksekutif dan karyawan bisa saja berpikir “Wah sistem yang sudah susah payah dibangun selama ini kok harus diganti?” Kita semua setuju, ada sisi yang menakutkan yang terkait perubahan, walaupun sebenarnya tersimpan ekspetasi dan harapan yang tersirat. Dalam bahasa manajemen pembaharuan diartikan sebagai upaya untuk membuat hidup, cara kerja, dan cara merespon dunia lebih pas dengan kebutuhan lingkungan yang baru. Dengan melakukan perubahan kita akan terhindar dari keterasingan dengan dunia luar, bahkan tereliminasi. Walaupun menakutkan, perusahaan menghindarkan individu dan perusahaan dari “penyakit tua”, membuat tetap muda dan fit dengan kondisi terbaru.
Pada tulisan selanjutnya kita akan membahas tentang hal-hal apa saja yang menjadi tantangan dalam perubahan atau Change Management. (M. Syaiful Rizal_IT, OPI_Corcom)
Terdapat 0 komentar
Silahkan tambahkan komentar