Adversity Quotient Ditinjau dari Orientasi Penggalian Potensi Kinerja Karyawan (Bagian III)
Beberapa tokoh seperti Robert dan John menyatakan kinerja karyawan adalah yang memengaruhi seberapa banyak karyawan memberi kontribusi kepada organisasi. Sedangkan penilaian kinerja adalah suatu evaluasi yang dilakukan secara periodik dan sistematis tentang prestasi kerja/jabatan seorang tenaga kerja, termasuk potensi pengembangannya (Wikipedia, 2008). Stoltz (2000:80) menemukan bahwa rasa ketidakberdayaan yang dipelajari (AQ rendah) yang dimiliki seseorang telah mengurangi kinerja, produktivitas, motivasi, energi, kemauan untuk belajar, perbaikan diri, keberanian mengambil risiko, kreativitas, kesehatan, vitalitas, keuletan, dan ketekunan. Ketidakberdayaan menciptakan kategori orang campers dan quitters.
Riset yang dilakukan oleh Lazaro-Capones dalam D’souza (2006:170) dan studi yang dilakukan di Deloitte and Touche, Sun Microsystems, M.P. Resources dalam D’souza (2006:170) menunjukkan bahwa terdapat pengaruh antara AQ dengan kinerja. Penelitian terhadap manajer tingkat menengah di Kota Manila yang dilakukan oleh Lazaro-Capones menunjukkan bahwa terdapat korelasi yang kuat antara AQ dengan kinerja (Lazaro-Capones, 2004: 22). Selanjutnya, Stoltz (2000:13) membuktikan bahwa :
- Ada yang dianugerahi kecerdasan luar biasa, bakat-bakat khusus, jasmani yang sangat kuat, keluarga yang penuh kasih sayang, masyarakat yang kokoh, dan sumber daya yang tidak terbatas, sementara ada yang sangat kekurangan. Meskipun demikian, mengapa ada banyak orang yang jelas-jelas sangat berbakat gagal menunjukkan potensi, sementara orang lain yang hanya memiliki sepersekian sumber daya dan kesempatan yang sama bisa lebih unggul dan mempunyai prestasi melebihi yang diharapkan.
- Intelligent quotient (atau yang disingkat IQ) tidak cukup untuk mencapai kesuksesan. Kecerdasan yang terukur secara ilmiah dan dipengaruhi oleh faktor keturunan ini telah lama dianggap oleh para orang tua, guru, dan pengusaha sebagai peramal kesuksesan. Namun, dunia ini sudah penuh dengan contoh orang yang memiliki IQ tinggi tapi tidak mewujudkan potensinya.
Dalam bukunya yang sangat laris, Emotional Intelligent (atau yang disingkat EI), Daniel Goleman dengan pengetahuannya yang sangat dalam menjelaskan mengapa beberapa orang yang memiliki IQ tinggi mengalami kegagalan, sementara banyak yang lainnya dengan IQ sedang-sedang saja dapat berkembang pesat. Goleman memperkenalkan sebuah gagasan baru tentang kecerdasan. Gagasan ini sudah dikembangkan dan memiliki dasar ilmiah. Goleman juga memberikan bukti yang kuat bagi konsepnya, bahwa selain IQ, manusia memiliki Emotional Quotient (atau yang disingkat EQ). EQ seseorang, yang sampai sekarang tetap merupakan tolok ukur yang hipotetis, mencerminkan kemampuan seseorang untuk berempati dengan orang lain, menunda rasa gembira, mengendalikan dorongan-dorongan hati, sadar diri, bertahan, dan bergaul secara efektif dengan orang lain. Dengan mengutip beberapa contoh, Goleman mengemukakan secara meyakinkan bahwa, dalam kehidupan, EQ lebih penting daripada IQ. Namun, seperti halnya IQ, tidak setiap orang memanfaatkan EQ dan potensi sepenuhnya, meskipun kecakapan-kecakapan yang berharga itu dimiliki. Karena EQ tidak mempunyai tolok ukur yang sah dan metode yang jelas untuk dipelajari, maka kecerdasan emosional tetap sulit dipahami. Sejumlah orang memiliki IQ yang tinggi berikut segala aspek kecerdasan emosional, namun tragisnya, orang-orang tersebut gagal menunjukkan kemampuan. Sepertinya, bukan IQ atau pun EQ yang menentukan sukses seseorang. Tapi, keduanya memainkan suatu peran. Stoltz menambahkan setiap orang memiliki respons yang berbeda terhadap pendakian dan, sebagai akibatnya, dalam hidup setiap orang menikmati berbagai macam tingkat kesuksesan dan kebahagiaan. Oleh karena itu jenis orang berdasarkan AQ yang dimiliki terdiri atas (Stoltz, 2000:18): mereka yang berhenti (quitters), mereka yang berkemah (campers), dan para pendaki (climbers). (Rr. Greata Nesya Oktavrida_Divisi SDM & HI, OPI_Corcom) <end>
Number 15 of the Best 30 LKTI 2015
Daftar Pustaka
Suhariadi, F. (2009). Deskripsi Adversity Quotient dan Perilaku Produktif dari Pemogok Kerja. Jurnal Psikologi Universitas Airlangga.
Stoltz, P.G. (2005). Adversity Quotient : Mengubah Hambatan Menjadi Peluang. Jakarta : PT. Grasindo.
Huijuan, Z. (2009). The Adversity Quotient and Academic Performance Among College Student at St. Joseph Collage, Quezon City. Undergraduate Thesis, Faculty of the Depatments of Art and Sciences St. Joseph Collage, Quezon City
Terdapat 0 komentar
Silahkan tambahkan komentar