Sejarah Perkebunan Tembakau di Nusantara

Terbit pada Rabu, 11 Maret 2015

Nicotiana tabacum (Nicotiana spp., L.) atau lebih dikenal sebagai tembakau (tobacco) adalah sejenis tumbuhan herbal dengan ketinggian kira-kira 1,8 meter (6 kaki), besar daunnya melebar dan meruncing dapat mencapai sekurang-kurangnya 30 sentimeter (1 kaki). Tanaman ini berasal dari Benua Amerika. Sejarah tembakau pada mulanya digunakan oleh penduduk asli Amerika untuk kegunaan medis. Sejarah mereka yang penuh dengan legenda dan mitos banyak dikaitkan dengan tembakau. Ajaran-ajaran kepercayaan mereka juga bersangkut-paut dengan tumbuhan tembakau, dimana asap tembakau dipercaya dapat melindungi mereka dari makhluk-makhluk halus yang jahat dan sebaliknya memudahkan mereka mendekati makhluk-makhluk halus yang baik. Orang asli Amerika yang bermukim di New World[1] telah menghadiahkan daun tembakau kepada Christopher Columbus saat melintasi Lautan Atlantik untuk pertama kalinya pada tahun 1942. Seabad setelah itu, merokok telah menjadi kegilaan global, dan seterusnya memberi manfaat ekonomi kepada para pengusaha di Amerika Serikat.

 

            Di Indonesia, tembakau sudah di kembangkan sebelum zaman tanam paksa era Van Den Bosch. Pada periode 1870 hingga 1940, penanaman tembakau berkembang di tempat-tempat seperti Kedu, Kediri, dan daerah perkapuran antara Semarang dan Surabaya. Setelah itu Klaten, daerah sekitar Vorstenlanden[2], Besuki, dan Jember justru menunjukkan hasil paling memuaskan. VOC membuka perkebunan tembakau di daerah Kesultanan Surakarta dan Yogyakarta sejak tahun 1820. Di daerah ini perusahaan harus beroperasi dalam lingkungan feodal, sehingga amat menghambat pertumbuhan perusahaan perkebunan. Dengan penghapusan sistem lungguh dan apanage terjadi kemajuan yang berarti dalam bisnis perkebunan saat itu. Di daerah Besuki pengusaha asing membuka tanah berdasarkan erpacht[3] dan dibagi-bagi kepada rakyat sebagai tanah garapan. Dengan kerja sama seperti itu rakyat turut memperoleh keuntungan serta memperoleh kesempatan meningkatkan kesejahteraannya.

 

Pada tahun 1856, VOC melakukan penanaman tembakau secara meluas di daerah Besuki - Jawa Timur, dengan dilengkapi suatu balai penelitian yaitu besoekisch profstation pada tahun 1910. Hasil dari balai penelitian tersebut adalah menyilangkan dan mendapatkan jenis tembakau yang cocok di Nusantara. Jenis tembakau cerutu yang sekarang banyak ditanam di Besuki adalah hasil persilangan antara jenis Kedu dengan jenis Deli (Djojosudiro, 1967), yang merupakan hasil riset dari balai penelitian ini. Dua tahun kemudian , yakni pada tahun 1858, diadakan penanaman jenis tembakau cerutu lainnya di daerah Yogyakarta- Surakarta, tepatnya di daerah Klaten.

 

Pada era tanam paksa, ribuan etnis Madura dipaksa meninggalkan kampung halamannya untuk menjadi buruh di perkebunan Tembakau di Besuki, Situbondo, Bondowoso, Jember, dan daerah tapal kuda lainnya. Perlakuan VOC yang menerapkan kontrak seumur hidup menjadikan para buruh tersebut harus menetap di daerah perkebunan beserta anak cucunya. Hal inilah yang merupakan cikal bakal etnis pedalungan, yaitu etnis campuran Madura dan Jawa yang banyak dijumpai di daerah tapal kuda perkebunan tembakau di Pulau Jawa.

 

Ketiga daerah di Nusantara yaitu Besuki di Jawa Timur, Klaten di Jawa Tengah, dan Deli di Sumatera Utara, merupakan daerah penghasil tembakau jenis cerutu yang sangat potensial bagi Indonesia. Dalam perdagangan internasional, khususnnya Eropa, Indonesia masih merupakan penyuplai komoditas tembakau cerutu peringkat atas yang diperhitungkan. Di pasar internasional, tembakau Besuki dan Klaten lebih dikenal dengan tembakau Jawa dan tembakau Deli lebih dikenal dengan tembakau Sumatera. (M. Syaiful Rizal _IT, OPI_Corcom)

 

Daftar Pustaka

Badil, Rudy, “Kretek Jawa, Gaya Hidup Lintas Budaya”,Gramedia, Agustus2011

[1] Daerah Amerika yang pertama kali dijadikan pemukiman oleh pendatang dari Eropa (Columbus)

[2] Wilayah 4 kerajaan di nusantara di sekitar Surakarta dan Yogyakarta

[3] Seperti HGU ( Hak Guna Usaha)

Posted in Artikel

Terdapat 0 komentar