Konsep Bisnis “Komunal” Untuk Efisiensi Biaya Kemasan dan Branding untuk UMKM
Ungkapan “Don’t Judge The Book From The Cover” mungkin sudah tidak lagi relevan jika digunakan dalam pemasaran dan branding produk di era digital seperti sekarang. Akses terhadap informasi produk berjalan lebih cepat dibanding mendapatkan nilai atau merasakan manfaat dari produk itu sendiri. Branding is the Key Of Product Value. Oleh karena itu Branding menjadi salah satu hal yang paling penting ketika sebuah produk akan dipasarkan.
Branding, hal tersebut juga merupakan poin penting bagi UMKM untuk naik kelas. Di era persaingan bisnis digital seperti saat ini, UMKM bisa memainkan peran branding dan mampu bersaing dengan industri besar. Fenomena Social Commerce yang sedang ramai belakangan justru seharunya menjadi pemicu kebangkitan UMKM karena siapapun akan memiliki kesempatan yang sama di ekosistem pasar digital. Tercatat ada 19 juta UMKM di Indonesia yang sudah masuk platform digital seperti Shopee, Tokopedia, Lazada dan lain sebagainya, berdasar data dari Asosiasi E-commerce Indonesia (idEA) dimana target Pemerintah adalah 30 juta UMKM di pasar digital pada tahun 2024.
Branding produk paling mendasar adalah kemasan produk itu sendiri. Selain berfungsi untuk pengaman produk, kemasan menjadi identitas utama sebuah produk. Kemasan yang mudah dikenali dan unik akan berdampak pada pada psikologis pemasaran dimana produk akan lebih diingat oleh konsumen sehingga memicu repeat order.
Sayangnya, untuk mendapatkan kemasan dengan kualitas dan desain yang baik memiliki biaya yang tidak murah bagi beberapa kalangan UMKM. Hal ini dikarenakan adanya jumlah minimal pemesanan yang diberlakukan produsen packaging. Di PT Dasaplast Nusantara misalnya, anak usaha PT Perkebunan Nusantara (PTPN) X ini mematok minimal pemesanan 30 Roll kemasan dengan panjang 2000 – 2500 meter. Harga per roll kemasan di kisaran Rp 1,5 – 2 Juta dengan penggunaan bisa sampai 4.000 pcs. Sehingga untuk sekali pemesanan membutuhkan modal biaya Rp 45 – 60 Juta dengan jumlah packaging 120.000 pcs. Sayangnya, jumlah produksi usaha skala UMKM tidak sebesar itu untuk satu jenis produk dalam 1 bulan. Modal yang dibutuhkan akan bengkak hanya untuk biaya kemasan saja.
Permasalahan modal usaha untuk branding itulah yang menjadikan produk UMKM tidak terlalu memprioritaskan packaging sebagai bagian dari strategi marketingnya. Nilai rupiah tersebut lebih baik dialokasikan untuk belanja bahan baku dan supply chain.
Namun ada beberapa model bisnis yang dapat digunakan untuk mengantisipasi masalah di atas. Salah satunya adalah model bisnis komunal. Model bisnis ini pada prinsipnya adalah menggabungkan beberapa usaha yang memiliki produk yang sama menjadi 1 merk sehingga memiliki branding dan packaging yang seragam. Model bisnis berbasis komunitas produk yang sama ini akan menyelesaikan permasalahan modal usaha yang dialami oleh pengusaha UMKM dengan Cashflow terbatas.
Sebagai contoh misal ada 10 UMKM yang memproduksi kripik nangka. Jika mereka memiliki merk masing – masing maka mereka harus menyiapkan modal Rp 60juta untuk pemesanan 1 roll kemasan packaging. Target produksi dan penjualan mereka akan tinggi karena dituntut dapat menjual 120.000 pcs per periode produksi. Dengan model bisnis komunal maka 10 UMKM tersebut akan menjadi konsorsium dengan 1 merek yang sudah disepakati. Rata-rata dari UMKM tersebut hanya akan mengeluarkan modal @6juta dengan target produksi sebanyak 12.000 pcs. Jumlah perbandingan modal dan produksi dapat disesuaikan dengan besar kecil UMKM.
Dengan model bisnis komunal diatas maka modal usaha untuk packaging tidak terlalu besar dengan target produksi yang rileks. UMKM masih dapat mengalokasikan cashflow untuk hal lainnya.
Walaupun memiliki sejumlah keuntungan, model bisnis komunal memiliki prasyarat sebagai berikut agar dapat berjalan efektif :
- Tiap UMKM harus menghitung kebutuhan jumlah packaging secara cermat, karena jumlah kebutuhan tersebut menjadi perbandingan dari jatah packaging yang diterima.
- Kemampuan produksi juga harus selaras agar waktu pemesanan packaging dapat dilakukan di waktu yang bersamaan. Kuncinya adalah perhitungan jumlah kebutuhan yang cermat pada point 1.
- Harus dilakukan kontrak perjanjian kerjasama yang profesional antar UMKM dalam 1 komunal. Kesepakatan tidak hanya berazaskan kekeluargaan tapi mengikat seperti perjanjian bisnis pada umumnya.
- Kualitas produk harus sedapat mungkin seragam walaupun memiliki produksi yang berbeda. UMKM yang tergabung dalam 1 komunal harus menyepakati standirisasi produk beserta quality control-nya. Hal ini untuk menjaga keberlangsungan bisnis dari komunal itu sendiri karena konsumen hanya akan mengenali produk dengan 1 merk saja.
4 hal diatas menjadi syarat wajib yang harus disepakati oleh UMKM yang tergabung dalam 1 komunal. Setelah kesepakatan dalam bentuk kontrak perjanjian bisnis resmi dibuat maka barulah strategi branding dibuat. Pemesanan packaging juga dapat diwakilkan kepada 1 UMKM mayoritas.
Ada beberapa hal yang bisa menjadi pertimbangan untuk memaksimalkan peran komunal bisnis selain syarat diatas. Hal berikut hanya bersifat usulan ide, yang jika dilakukan akan menambah value bisnis dari sebuah komunitas bisnis yang terbentuk.
- Sebuah bisnis komunal dapat menjadi cikal bakal sebuah entitas baru yang lebih besar, bisa berupa koperasi produsen atau justru sebuah entitas usaha seperti CV / PT.
- Selain penyatuan merk, setiap UMKM bisa menjadi support system bisnis bagi yang lain baik dalam pemodalan, bahan baku, inovasi produk serta sharing market.
- Produk dapat dikembangkan dalam berbagai varian dan jenis sehingga tiap UMKM tetap memiliki tanggung jawab dan innovasi yang unik nanmun tetap dalam semangat maju bersama.
Pada akhirnya, dalam beberapa kesempatan, saya menyadari bahwa setiap konsorsium bisnis yang besar, dibalik perusahaan – perusahaan raksasa di dunia adalah gabungan dari berbagai unit bisnis yang berbeda, menyatukan diri dengan visi yang sama dan berkembang bersama. Hal tersebut yang mendasari kenapa konsep bisnis komunal akan cocok diterapkan di jenis usaha mikro / kecil. Pain point-nya adalah “menyatukan visi bisnis” dari berbagai keberagaman tersebut. (RIZ_Sekper, CIN_Sekper)
Terbaru
- MUDIK ASIK BERSAMA BUMN, PTPN I REGIONAL 4 BERANGKATKAN 401 PEMUDIK
- Mudik Asik Bersama Bumn, PTPN I Regional 4 Berangkatkan 401 Pemudik
- Sukseskan Kinerja 2024, Kebun Tembakau PTPN I Regional 4 Tingkatkan Sinergi Keamanan Bersama TNI Polri
- SUKSESKAN KINERJA 2024, KEBUN TEMBAKAU PTPN I REGIONAL 4 TINGKATKAN SINERGI KEAMANAN BERSAMA TNI POLRI
- PTPN I Regional 4 Perluas Pangsa Pasar Ekspor Tembakau
Terdapat 0 komentar