Joss Berkat Kompos

Terbit pada Senin, 19 Maret 2018

Kompos merupakan hasil penguraian parsial dari campuran bahan-bahan organik yang dapat dipercepat secara buatan oleh beragam mikroba dalam kondisi lingkungan yang hangat dan lembab. Organisme pengurai atau dekomposer dapat berupa mikroorganisme atau makroorganisme. Sedangkan pengomposan adalah proses dimana bahan organik mengalami penguraian secara biologis, khususnya oleh mikroba-mikroba yang memanfaatkan bahan organik sebagai sumber energi.

Menurut Kepala Sie Kesuburan Tanah dan Laboratorium Penelitian Tembakau Jember Subagio, kompos berfungsi untuk memperbaiki struktur tanah, mendongkrak kemampuan tanah untuk mempertahankan kandungan air (tanah tidak mudah kering), sumber hara tanaman, media tumbuh untuk tanaman serta memacu pertumbuhan dan perkembangan tanaman.

“Kompos dapat diproses dengan metode aerob (dengan udara) dan anaerob (tanpa udara). Kedua metode tersebut menghasilkan kompos dengan kualitas yang sama, hanya saja bentuk fisiknya sedikit berbeda,” ujar penggemar olahraga menembak ini.

Dalam kaitannya dengan limbah organ tembakau di lahan, lanjut Bagio, semuanya berpeluang dijadikan sebagai bahan baku kompos. Namun yang perlu diingat, kandungan senyawa kimia, ketersediaan bahan, kecepatan diurai oleh dekomposer, serta harga produksi yang terbentuk harus menjadi pertimbangan dan parameter karena akan mempengaruhi kualitas, harga, dan daya saing kompos limbah tembakau yang dihasilkan.

“Silahkan diuji coba, dianalisis., dan dibandingkan. Mana yang akan menjadi primadona: kompos kuncup tembakau, kompos daun tembakau, kompos batang tembakau, atau bahkan kompos akar tembakau?” pungkas Bagio. (OPI_Penelitian Tembakau Jember, FIR_Sekper)

Posted in Artikel

Terdapat 0 komentar