BBN Masih Jalan di Tempat
Realisasi Bahan Bakar Nabati (BBN) untuk tahun ini masih jalan di tempat. Rencana pemasaran, PT Energi Agro Nusantara selaku produsen ethanol untuk BBN masih didominasi kebutuhan raw ethanol untuk industri. Hal ini diungkapkan Dimas Eko Prasetyo, Direktur PT Energi Agro Nusantara kemarin (7/6) pada saat ditemui di Main Office PT Energi Agro Nusantara, Mojokerto.
“Rencana produksi kami lebih diarahkan pada raw ethanol untuk pasar industri, sementara permintaan ethanol untuk BBN masih nihil” ujar Dimas
Hal ini sangat disayangkan karena konsumsi BBN sudah menjadi mandatori dari Pemerintah. Sebagaimana tercantum dalam kebijakan pemerintah yaitu UU No. 30 Tahun 2007 tentang Energi dimana Badan Usaha diwajibkan untuk menggunakan BBN sebagai energi baru terbarukan. Selain itu aturan turunan lainnya sudah ada seperti PP, Kepres sampai Permen.
Terakhir kali ethanol untuk BBN digunakan pada tahun lalu oleh Pertamina namun porsinya sangat kecil sekitar 8.000 liter untuk Pertamax Racing. Sedangkan kapasitas produksi dari PT Energi Agro Nusantara saja mencapai 100 Kl per hari atau 100.000 liter ethanol per hari.
Perkembangan terakhir, aplikasi BBN terkendala pada fasilitas blending (pencampuran) ethanol dengan Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk dijadikan BBN. Fasilitas tersebut sudah dipenuhi oleh PT Pertamina di Surabaya, Ujung Berung dan Balongan. Sedangkan badan usaha lainnya masih dalam tahap pembangunan sarana fasilitas blending.
Selama ini badan usaha pembeli BBN memang masih mencampur bioethanol secara bersama dalam tangki comingle system atau tangki dengan beberapa kepemilikan. Kondisi seperti ini tidak dipersyaratkan oleh pemerintah, sehingga tiap badan usaha diminta membangun fasilitas blending sendiri-sendiri.
Melihat kondisi aktual tersebut, PT Energi Agro Nusantara saat ini masih menunggu pengadaan bioethanol untuk BBN yang direncanakan Pertamina bulan Mei lalu dan pengadaan ethanol dari badan usaha lainnya. Berdasarkan rapat implementasi mandatori bioethanol Februari lalu, Kebutuhan ethanol untuk BBN sebesar 2% dengan rincian PT Pertamina (Persero) sekitar 47.567 Kl/tahun, PT Shell indonesia 9.500 Kl/tahun, PT Total Oil Indonesia sekitar 700 Kl/tahun dan PT NEPI sekitar 120 Kl/tahun dan PT AKR 1000 Kl/tahun.
“Jika program mandatori tetap terealisasi maka ini menjadi kabar baik baik bagi kami, namun demikian kami tetap mencari peluang pasar lainnya untuk keberlangsungan perusahaan” lanjut Dimas
Pada tahun ini, PT Energi Agro Nusantara menargetkan produksi ethanol sebesar 13.350 Kl dengan waktu produksi dimulai bulan Juni lalu sampai Desember. Selain PT Energi Agro Nusantara, produsen ethanol lainnya yang masih eksis antara lain Molindo Raya, Indo Acidatama, Indonesia Ethanol Industry, Ethanol Ceria Abadi dan PT Madubaru. Total kapasitas produsen ethanol tersebut mampu menyuplai 212.200 Kl per tahun. Sedangkan kebutuhan BBN 1% saja dari total BBM telah mencapai 300.000 KL. Sehingga usaha ini masih prospektif karena suplai ethanol untuk BBN masih kurang dari kebutuhan BBN nasional.
Seperti kita ketahui bersama BBN dari ethanol yang dicampur dengan BBM adalah program pemerintah terkait energi terbarukan yang sangat diharapkan untuk mengurangi ketergantungan konsumsi BBM murni. Di negara-negara sekitar seperti Thailand dan Filipina, sudah menggunakan BBN sebagai kebutuhan bahan bakar kendaraan mereka. Perhatian terhadap penggunaan BBN semakin meningkat dari tahun ke tahun. Dari tahun 2015 sampai 2016 saja, kebutuhan BBN di regional asia dan Oceania meningkat 12% dan diprediksi terus meningkat dari tahun ke tahun seiring dengan pemahaman pentingnya BBN untuk kelangsungan energi jangka panjang (ARH_Enero, FIR_Sekper).
Terbaru
- RAT KPTR Lestari, Manajemen PG Lestari Berkomitmen Berikan Layanan Prima
- Tingkatkan Kualitas Hubungan, Manajemen PG Lestari Kunjungi Petani Tebu Rakyat
- Penuhi Kebutuhan Pupuk Petani, PTPN X Gandeng Petrokimia Gresik
- PG Gempolkrep Salurkan Bantuan Rumah Burung Hantu
- Amankan Aset, Kebun Kertosari dan Kebun Ajong Gayasan Gandeng Kejari Jember
Terdapat 0 komentar