Adversity Quotient Ditinjau dari Orientasi Penggalian Potensi Kinerja Karyawan (Bagian I)

Terbit pada Senin, 13 April 2015

Dalam dunia kerja, perusahaan melakukan rekrutmen atau seleksi calon pegawai melalui tes kepribadian untuk menilai seberapa jauh kemampuan psikologisnya. Dengan demikian, akan mendapatkan gambaran utuh mengenai kondisi calon pegawai, baik keunggulan diri maupun kelemahan yang dimiliki, sehingga memudahkan memilih orang yang paling tepat untuk posisi yang tepat pula (the right man in the right place). Selama ini dapat dilihat dari iklan-iklan lowongan pekerjaan yang dimuat di Koran, IPK dijadikan tolok ukur dalam menerima pegawai. Selain itu berdasarkan pengamatan, masih banyak perusahaan yang melakukan tes IQ kepada calon pekerja. Padahal kecerdasan bukan menjadi tolak ukur kesuksesan seseorang, maka muncul konsep yang disebut dengan Emotional Quotient (EQ). Goleman dalam Stoltz (2000:15) mengemukakan secara meyakinkan bahwa dalam kehidupan, EQ lebih penting dari IQ. Selanjutnya Goleman menambahkan banyak orang yang memiliki IQ tinggi namun gagal, hal ini disebabkan karena mereka tidak memiliki EQ yang baik.

            Namun Stoltz (2000:15-16) menyatakan bahwa seperti halnya IQ, tidak setiap orang memanfaatkan EQ dan potensi mereka sepenuhnya, meskipun kecakapan-kecakapan yang berharga itu mereka miliki karena EQ tidak mempunyai tolak ukur yang sah dan metode yang jelas untuk mempelajarinya, maka kecerdasan emosional tetap sulit dipahami. Sejumlah orang memiliki IQ yang tinggi berikut segala aspek kecerdasan emosional, namun orang-orang tersebut gagal menunjukkan kemampuan. Stoltz menambahkan bukan IQ atau pun EQ yang menentukan sukses seorang individual, tapi keduanya memainkan suatu peran.

Stoltz (2005) menjelaskan bagaimana individu berhadapan dengan hambatan dan kesulitan yang dihadapi sehingga mampu berfungsi secara penuh dalam kehidupan. Konsep ini disebut Stoltz sebagai Adversity Quotient (AQ). Adversity Quotient merupakan kemampuan yang dimiliki individu dalam menghadapi dan berusaha keras mengatasi kesulitan sehingga tidak berdampak secara mendalam pada usaha individu dalam menjalani kehidupannya. Adversity Quotient menjadi tolak ukur resiliensi dan kemampuan bertahan individu dalam menghadapi perubahan konstan, berbagai tekanan dan kesulitan (Stoltz dalam Canivel, 2010).

Adversity Quotient dapat menggambarkan motivasi, kreativitas, kinerja, pemberdayaan, produktivitas, pengetahuan, energi, harapan, dan kebahagiaan individu dalam mencapai kesuksesan (Stoltz, 2005). Selain itu individu yang memiliki skor AQ tinggi akan memiliki hidup yang lebih bermakna dibandingkan dengan individu yang memiliki skor AQ rendah. Individu dengan skor AQ tinggi juga cenderung menggunakan strategi problem focused coping sedangkan individu skor AQ rendah melakukan strategi emotion-focused coping. Selanjutnya Lazzaro-Caones (2004) dalam penelitiannya menemukan terdapat hubungan yang kuat antara adversity quotient dengan tingkat performa pada manajer di Manila. Penelitian berikutnya semakin memperkuat penelitian mengenai tingkat performa yaitu hasil performa akademik mahasiswa dapat tergambar dari adversity quotient dimana mahasiswa dengan performa akademik yang tinggi mendapatkan skor AQ yang tinggi pula (Huijuan, 2009). Hal ini semakin memperkuat bahwa adversity quotient merupakan prediktor keberhasilan seorang individu dalam menjalani hidupannya.

            Stoltz (2005) menyebutkan bahwa setiap manusia memiliki dorongan dasar untuk dapat terus meningkatkan taraf hidupnya, namun sukses atau tidaknya seseorang bergantung pada bagaimana individu menghadapi kesulitan dengan memanfaatkan potensi yang dimiliki agar bisa terus maju dalam kehidupan adalah adversity quotient. Adversity Quotient merupakan kerangka konseptual yang mampu memprediksi seberapa jauh individu mampu mengatasi kesulitan-kesulitan dalam hidup, dengan kata lain adversity quotient mampu memberikan gambaran individu mana yang mampu melampaui harapan atas kinerja dan potensinya atau individu mana yang gagal dalam mengatasi kesulitan hidup (Canivel, 2010; Huijuan, 2009; Suhariadi, 2009). Stoltz menyebutkan bahwa adversity quotient yang dimiliki individu dapat mengubah hambatan menjadi sebuah peluang. (Rr. Greata Nesya Oktavrida_Divisi SDM & HI, OPI_Corcom) Number 15 of the Best 30 LKTI 2015

Posted in Artikel

Terdapat 0 komentar