Selayang Proses Produksi Gula Kristal Putih di PTPN X

Proses produksi gula kristal putih di pabrik-pabrik gula PT Perkebunan Nusantara X mempergunakan proses defekasi-sulfitasi dengan bahan baku tebu. Secara garis besar, proses produksinya dapat dibagi menjadi enam unit, yaitu:

  1. Stasiun Gilingan

    Proses di Stasiun Gilingan dapat dibedakan menjadi dua tahap, yaitu proses pendahuluan dan ekstraksi tebu. Tebu yang masih berupa lonjoran dipotong-potong dan dicacah pada alat pendahuluan hingga menjadi serabut yang berukuran sekitar 5 cm. Kemudian serabut-serabut tebu ini diekstraksi menggunakan gilingan hingga nira yang ada dalam batang tebu terperas. Untuk meningkatkan efisiensi pemerahan, ditambahkan air imbibisi. Nira yang dihasilkan masih mengandung banyak pengotor, disebut nira mentah, dan akan diproses selanjutnya di Stasiun Pemurnian, sedangkan ampas yang dihasilkan akan digunakan sebagai bahan bakar Boiler.

  2. Stasiun Pemurnian

    Zat-zat bukan gula yang terdapat dalam nira dipisahkan dengan mengendalikan suhu, pH, dan waktu tinggal di tiap peralatan agar sukrosa yang terkandung dalam nira tidak terinversi. Sebagian besar zat-zat bukan gula tersebut akan terpisahkan sebagai blotong dan nira yang dihasilkan disebut nira jernih.

  3. Stasiun Penguapan

    Nira jernih masih memiliki kadar air tinggi. Untuk mengefisienkan pemakaian uap pada proses kristalisasi nantinya, air dalam nira diuapkan hingga nira mencapai 30 – 32 derajat Celcius. Proses penguapan ini dilakukan secara hampa udara.

  4. Stasiun Masakan

    Nira kental yang dihasilkan diuapkan lebih lanjut hingga terbentuk kristal gula. Proses kristalisasi ini juga dilaksanakan dalam kondisi hampa udara. Untuk mencapai ukuran kristal yang diinginkan, proses masakan dibagai dalam beberapa tahap. Hasil akhir Stasiun Masakan adalah massecuite, yaitu krital gula yang masih mengandung lapisan-lapisan strup disekelilingnya.

  5. Stasiun Puteran

    Krital gula dalam massecuite dipisahkan dari strup dengan memanfaatkan gaya sentrifugal. Proses sentrifugasi ini juga dilakukan dalam beberapa tahap, tergantung jenis massecuite yang diputar.

  6. Stasiun Penyelesaian

    Gula yang dihasilkan Stasiun Puteran masih mengandung kadar air yang cukup tinggi, oleh karena itu gula dikeringkan dan didinginkan dengan menggunakan Sugar Drier and Cooler (SDC) hingga diperoleh gula dengan kadar air dan suhu yang diharapkan.

Gula yang diproduksi PT Perkebunan Nusantara X menggunakan tebu sebagai bahan baku dan dihasilkan dengan memanfaatkan proses defekasi-sulfitasi. Pembuatan gula kristal putih (GKP) merupakan tahapan proses yang panjang dan melibatkan fenomena ekstraksi, reaksi kimia, pemisahan, penguapan, kristalisasi, pengeringan, dan pendinginan. Gula krital putih yang dihasilkan PT Perkebunan Nusantara X memiliki ICUMSA rata-rata 150 IU dan telah memenuhi Standard Nasional Indonesia (SNI).

 

 

Ada tiga kebun tembakau yang berada dibawah manajemen PT Perkebunan Nusantara X yaitu Kebun Ajong Gayasan, Kebun Kertosari dan Kebun Kebonarum/Gayamprit/Wedibirit. Mayoritas tembakau yang dikembangkan adalah tembakau berkualitas ekspor untuk memenuhi kebutuhan pasar cerutu dunia. Tembakau tersebut dijual ke produsen cerutu secara langsung tanpa melalui pedagang (trader). Selain pasar utama di Eropa dan Amerika Serikat, perseroan juga mulai melirik pasar di Republik Rakyat Cina yang terus berkembang seiring perubahan gaya hidup masyarakat. PTPN X juga melakukan budidaya tembakau Virginia untuk kebutuhan pasar dalam negeri.


Jenis tembakau yang dibudidayakan untuk cerutu adalah Tembakau Bawah Naungan (TBN), Voorstenlanden Bawah Naungan (VBN), Tembakau varietas Connecticut/FIK, Tembakau Sumatera/FIN dengan tingkat kualitas Natural Wrapper/NW, Light Painting Wrapper/LPW, Ready for Use/RFU, dan filler. Adapun tembakau Na-Oogst (NO) dan Vorstenlanden Na-Oogst (VNO) memiliki tingkat kualitas dekblad, omblad, dan filler. Perseroan juga memasarkan Tembakau Virginia dan Madura. Produk tembakau ini telah diakui kualitasnya oleh pasar manca negara.

 

 

Hasil samping dari limbah pabrik gula diantaranya adalah abu ketel dan blotong atau dikenal dengan sebutan “filter press mud”. Secara umum bentuk dari blotong berupa serpihan serat-serat tebu yang mempunyai komposisi humus, N-total, C/N, P2O5, K2O, CaO dan MgO, cukup baik untuk dijadikan bahan pupuk organik. Blotong dapat memperbaiki fisik tanah, khususnya meningkatkan kapasitas menahan air, menurunkan laju pencucian hara dan memperbaiki drainase tanah. Manfaat lain dari blotong dapat menetralisir pengaruh Aldd , sehingga ketersediaan P dalam tanah.

Blotong dan abu ketel harus dikomposkan terlebih dahulu sebelum digunakan sebagai pupuk organik. Pengomposan merupakan suatu metode untuk mengkonversikan bahan-bahan organik komplek menjadi bahan yang lebih sederhana dengan menggunakan aktivitas mikroba. Pada dasarnya pengomposan adalah dekomposisi dengan menggunakan aktivitas mikroba; oleh karena itu kecepatan dekomposisi dan kualitas kompos tergantung pada keadaan dan jenis mikroba yang aktif selama proses pengomposan.

 

 

 

Puslit Gula Jengkol telah mengembangkan dekomposer dengan nama Bio N10 yang digunakan dalam pembuatan bio kompos dan telah memenuhi persyaratan minimum mikroba sesuai dengan Peraturan Menteri Pertanian No. 70/Permentan/SR.140/10/2011 tentang Persyaratan Minimal Pupuk Organik Padat, dimana pupuk bio organik asal blotong dan abu ketel yang telah diperkaya mikroba mencapai > 103 cfu/g dan setara dengan pupuk hayati sebesar >107 cfu/g.

Dekomposer “Bio N10” diproduksi oleh Puslit Gula Jengkol telah terdaftar di Kementerian Pertanian dengan diterbitkannya SK Mentan No. 1495/Kpts/SR.130/4/2012 tanggal 24 April 2012. Dekomposer “Bio N10” telah mempunyai aspek legalitas dalam penggunaan dan peredarannya sebagai biostarter pembuatan kompos. Merek “Bio N10” juga telah terdaftar dan memiliki HAKI di Depkumham dengan No. D00-2001 026343 tanggal 5 Juli 2011.

 

Cutting Bobbin

 

 

 

 

 

Industri Cutting Bobbin bekerjasama dengan BURGER SOEHNE AG BURG (BSB)-SWISS dalam jasa pemotongan daun tembakau menjadi pembungkus cerutu.

Industri ini berlokasi di Dati II Jember (Jelbuk) Jawa Timur dan di lokasi ini juga didirikan Kawasan Berikat kerjasama dengan Bea Cukai dan Pemda Tk. II untuk memperlancar/menyederhanakan proses ekspor/impor utamanya untuk Industri Cutting Bobbin.