Regulasi Tembakau ubah Pasar Cerutu Dunia

Terbit pada Kamis, 13 April 2017

JEMBER – Tanaman tembakau seperti selalu dalam persimpangan. Di satu sisi, komoditas ini berperan penting dalam perekonomian negara sebagai sumber devisa, cukai dan menciptakan tenaga kerja. Namun di sisi lain, tembakau dicap mengganggu kesehatan karena mengandung tar dan nikotin yang dapat menimbulkan penyakit.

”Saat ini, bisnis tembakau mulai dari kegiatan produksi sampai dengan peredarannya dibatasi beberapa regulasi yang harus dipatuhi oleh seluruh stakeholdernya,” ujar GM Kebun Ajong Gayasan, Sugianto saat Workshop dan Ekspose Hasil Penelitian, Penelitian Tembakau Jember dan Klaten tahun 2017 di Gudang Sukokerto Ajung-Kebun Kertosari, Kamis (6/4/2017). Aturan tersebut yaitu FCTC (Framework Convention on Tobacco Control), STP (Suistanable Tobacco Program) dan Coresta Guidance.

Dampak dari regulasi tadi memunculkan pemberlakuan larangan merokok di tempat umum seperti restoran, perkantoran, diskotik, hotel dan sebagainya serta larangan penggunaan HTL (Homogenized Tobacco Leaf). ”Larangan-larangan tersebut mengubah tren cerutu dunia,” kata Sugianto.

Tren cerutu mengalami perubahan yang sangat cepat. Cerutu besar yang pada tahun 2010 masih berkisar 21% dari total produk cerutu dunia, menurun menjadi 5% pada tahun 2016. Sedangkan cigarillos (cerutu kecil) yang pada 2010 masih 79%, pada 2016 meningkat menjadi 95%.

Melihat kondisi yang terjadi sekarang, menurut Sugianto, yang perlu dilakukan oleh Penelitian Tembakau Jember dan Klaten adalah dengan mendukung peningkatan kualitas TBN (Tembakau Bawah Naungan). ”Meningkatkan komposisi wrapper yang harganya lebih tinggi menjadi 80 persen. Sedangkan filler cukup 20 persen saja karena harganya rendah,” tutur Sugianto. (CIN_Sekper, FIR_Sekper)

Posted in Berita

Terdapat 0 komentar

Silahkan tambahkan komentar