Pengembangan dan Energy Balance Ethanol di Brazil

Terbit pada Rabu, 19 April 2017

Perkembangan bioethanol di Brazil menjadi tolok ukur kesuksesan industri ethanol dunia. Sebagai role model, informasi pengembangan ethanol di Brazil perlu diketahui bersama terlebih fungsinya untuk campuran bahan bakar konvensional atau fosil. Selain itu, perlu diketahui juga keefektifan pemanfaatan ethanol dari energy balance-nya.

Perkembangan Industri Gula di Brazil

Sumber biomassa terbesar di Brazil adalah tanaman tebu dan residu hasil hutan. Industri gula di Brazil sudah ada sejak negara tersebut dibentuk. Berawal dari produksi secara tradisional dan berkembang sejak tahun 1930, ketika Getúlio Vargas, presiden Brazil saat itu, membentuk The Sugar and Alcohol Institute (IAA). Namun, perubahan drastis terjadi ketika Pemerintah Brazil menetapkan Proálcool (Program Alkohol Nasional) pada tahun 1970-an dan selanjutnya industri gula disana berkembang secara masif.

Saat ini, Brazil adalah produsen tebu terbesar di dunia yang menyuplai 25% produksi tebu dunia, 13,5% produksi gula dunia dan 55% produksi ethanol dunia. Penanaman tebu mencapai 5 juta ha. Produksi tebu mencapai 340 juta, 25  juta gula dan lebih dari 14 miliar liter ethanol. Sedangkan, industri ethanol sendiri telah menyediakan Bahan Bakar Nabati (BBN) untuk 4 juta kendaraan. Industri gula dan ethanol telah menghasilkan 12 miliar dollar atau setara 156 triliun rupiah dan menciptakan 600.000 jenis aktivitas pekerjaan yang terkait. Hampir seluruh penanaman tebu disana didedikasikan untuk produksi ethanol.

Ethanol sebagai Bahan Bakar

Khusus untuk ethanol, sebagai bahan bakar kendaraan, kualitasnya jauh lebih baik dari bahan bakar konvensional atau fosil. Ethanol memiliki oxygen content tinggi, tingkat pembakaran sempurna, meningkatkan performa mesin dan mengurangi emisi karbon.  Berdasar pada Brazilian Development Bank and Centre for Strategic Studies and Management Science, Technology and Innovation (BNDES), penggunaan bioethanol di Brazil dimulai sejak 1931. Dengan tujuan mengurangi konsumsi BBM dengan pemanfaatan diversifikasi produk gula.

Dimulai dari pencampuran ethanol 5% pada bahan bakar fosil, selanjutnya Proálcool menetapkan konsumsi untuk 3 miliar liter bioethanol dan memberikan insentif untuk pengembangan produksi dan konsumsi bioethanol di Brazil. Sebagai suatu program, melalui Proálcool Pemerintah Brazil mengambil kebijakan:

  1. Tiap tahunnya penggunaan ethanol pada BBM harus meningkat secara bertahap
  2. Penetapan harga terjangkau bagi konsumen dan bersaing dengan harga bahan bakar fosil
  3. Penjaminan harga kompetitif bagi produsen ethanol dalam bentuk subsidi
  4. Penyediaan kredit dengan berbagai tingkatan untuk pabrik gula dengan tujuan  meningkatkan kapasitas produksi
  5. Pengurangan pajak kendaraan berbahan bakar ethanol, mewajibkan ketersediaan ethanol di tiap-tiap POM Bensin, memonitoring stok ethanol untuk memastikan suplai ethanol selalu terpenuhi

Perkembangan program yang baik diikuti pula beberapa inovasi seperti kehadiran flex vehicles (kendaraan berbahan bakar campuran ethanol dan atau bahan bakar fosil). Teknologi ini diterima sangat luar biasa oleh masyarakat di Brazil dan menstimulasi industri fuel ethanol untuk berkembang pesat. Puncak perkembangan terlihat pada tahun 2009 saja, dimana industri gula di Brazil berhasil memproduksi 25 juta m3 ethanol.

Energy Balance

Sedangkan dilihat dari efisiensinya, perlu diperhatikan Energy Balance dari penggunaan ethanol. Energy Balance atau kesetimbangan energi, biasanya dipresentasikan oleh Net Energy Ratio (NER), dimana hasil dari energi terbarukan dari biofuel dan produk sampingnya dibagi dengan input dari energi konvensional (fosil) dalam seluruh rangkaian rantai produksi. NER memberikan indikasi yang baik atas kapasitas dari biofuel dalam mengurangi ketergantungan energi fosil. Kesetimbangan energi ethanol di Brazil sudah dianalisa sejak tahun 1980-an dan di-update pada tahun 2006 dengan hasil sebagai berikut:

  • Produksi dan transportasi tebu: 210,2 MJ/ton tebu
  • Pengolahan menjadi ethanol: 23,6 MJ/ton tebu
  • Input energi fosil atas poin a dan b: 233,8 MJ/ton tebu
  • Energi terbarukan yang dihasilkan atas poin a dan b: 2185,2 MJ/ton tebu
  • Energi dari ethanol yang dihasilkan: 1.926,4 MJ/ton tebu
  • Surplus ampas tebu: 176 MJ/ton tebu
  • Surplus listrik: 82,8 MJ/ ton tebu
  • NER (Renewable output: ethanol + ampas tebu)/input energi fosil 9 MJ/ton tebu
  • NER (Renewable output: ethanol + ampas tebu + listrik)/input energi fosil 9,3 MJ/ton tebu

Dapat diartikan rasio nilai energi dari ethanol dan surplus ampas tebu adalah 9 kali lebih besar dari input energi fosil, apabila ethanol, surplus ampas tebu ditambahkan dengan surplus listrik maka nilai energi dari pengolahan ethanol dan produk samping adalah 9,3 kali lebih besar dari yang dihasilkan oleh input energi fosil.

Bahkan menurut Peter Zuuber dalam buku Sugarcane Ethanol, contributions to climate change mitigation and environment, pengembangan industri ethanol secara konsisten, akan memberikan energi rasio 12 kali lebih baik daripada energi fosil. Selain lebih baik, ethanol juga ramah lingkungan, seperti dilansir dari penelitian BNDES, ethanol mengurangi 90% emisi atas efek rumah kaca, berkontribusi dalam mitigasi perubahan iklim dan setiap m3 ethanol yang dicampur dengan BBM akan mengurangi 1,9 mn t CO2 yang merusak atmosfer.

Dari bahasan di atas, Indonesia sudah selayaknya berkaca pada Brazil atas pengembangan ethanol. Jika sumber, sarana prasarana, kebijakan sudah tersedia, hanyalah konsistensi yang dibutuhkan saat ini. (ARH_Enero, FIR_Sekper)

 

Sumber:

Zuuber P., van de Vooren J., 2008: Sugarcane Ethanol, contributions to climate change mitigation and environment, Wageningen Academic Publishers

Meeyer J., Rein P., Turner P., Mahtias K., 2013: Good Management Practices for the Cane Sugar Industry, Verlag Dr. Albert Bartens KG

Posted in Artikel

Terdapat 0 komentar

Silahkan tambahkan komentar