Menteri Rini Dorong BUMN Kembangkan Industri Gula Madura

Terbit pada Jumat, 15 Januari 2016

Menteri BUMN Rini Soemarno mendukung langkah BUMN dalam mengembangkan industri gula di Pulau Madura. Pulau tersebut bisa menjadi alternatif untuk melakukan perluasan lahan di tengah susahnya ekstensifikasi lahan di Pulau Jawa yang selama ini menjadi sentra industri gula nasional.

”Saya kira Madura punya potensi besar untuk industri gula, seperti di Pamekasan. Langkah pengembangan tersebut sudah dirintis oleh BUMN dengan mulai menggarap lahan di Madura,” kata Rini.

Sebagai dukungan pengembangan industri gula di Madura, Rini telah menyerahkan secara resmi bantuan sumur bor berkedalaman 120 meter untuk para petani di Desa Gro’om, Kecamatan Proppo, Kabupaten Pamekasan. Sumur tersebut berkapasitas air 20-35 liter per detik yang bisa mengairi 50 hektar lahan tebu. ”Jika ada halangan soal air, kita cari solusinya bersama. Alhamdulillah di titik ketiga, bisa dibuat sumur  dalam dan bisa memasok air ke lahan tebu. Ini bentuk sinergi BUMN yang bagus, antara PT Perkebunan Nusantara X, BNI, dan PLN. PLN beri listrik, BNI bantu lewat corporate social responsibility (CSR), PTPN X dampingi petani,” kata Rini.

Rini berharap tahun ini bisa menjadi tonggak untuk membangun Madura melalui pengembangan industri gula. BUMN melalui PTPN akan terus melengkapi infrastruktur pendukung budidaya tebu, termasuk infrastruktur sumber daya air. ”Insya Allah nanti ada jalannya untuk kita mengebor di tempat lainnya guna pembuatan sumur. Di Madura bisa dibangun pabrik gula, tapi tentu butuh tebu. Nah, budidaya tebunya ini harus diperkuat. Kita semua berharap Madura, khususnya Pamekasan, bisa mempunyai kebanggaan jika nanti pabrik gula mulai dibangun. Ini untuk kepentingan Jawa Timur dan nasional agar kita bisa segera swasembada gula,” jelas Rini.

Direktur Utama PT Perkebunan Nusantara X Subiyono mengatakan, PTPN X telah mengembangkan lahan tebu di Pulau Madura seluas lebih dari 1.000 hektare. Dalam setahun ini, diharapkan luas lahan bisa bertambah menjadi 1.400 hektare. Hasil panen tebu dari Pulau Madura tersebut dikirim ke pabrik gula milik PTPN X yang ada di Sidoarjo untuk diolah menjadi gula.

Dia menjelaskan, terdapat potensi lahan seluas 124.000 hektar di Madura yang cocok untuk pengembangan tebu sesuai kajian Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI). Lahan itu tersebar di empat kabupaten, yaitu Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep.

”Dari aspek suhu, kelembaban, tekstur tanah, pH tanah, dan sinar matahari di Madura cukup cocok untuk budidaya tebu. Memang ada beberapa wilayah yang mempunyai masalah soal air, tapi itu bisa diatasi dengan pendekatan teknologi, seperti dengan sumur bor yang hari ini telah diserahkan secara resmi oleh Ibu Menteri BUMN,” kata Subiyono.

Subiyono mengapresiasi sinergi dengan pemerintah daerah di Madura yang berjalan cukup baik, sehingga upaya membantu petani terkait infrastruktur sumberdaya air bisa terealisasi. ”Pembuatan sumur bor telah berhasil dan bisa menjadi solusi bagi wilayah-wilayah yang mungkin bermasalah soal air. Berarti ini ada harapan. Kami punya semangat besar terhadap apa yang kami lakukan di Madura,” kata dia.

Subiyono menambahkan, saat ini rata-rata produksi lahan tebu di Pulau Madura baru sekitar 55-60 ton per hektar lantaran di sejumlah wilayah masih terkendala pengairan. Dengan investasi pembuatan sumur, produksi bisa ditingkatkan menjadi 80 sampai 100 ton tebu per hektare sebagaimana produktivitas di Pulau Jawa. ”Ke depan, akan terus dikembangkan sumur dalam atau dam agar sumberdaya air bisa lancar ke lahan tebu,” jelasnya.

”Jika nanti pabrik gula sudah dibangun, tentu tebu dari lahan yang kami kembangkan di Madura tidak perlu lagi dikirim ke pabrik gula yang ada di Sidoarjo, tetapi langsung digarap di Madura, sehingga bisa menciptakan nilai tambah ekonomi bagi daerah,” imbuh Subiyono.

Pabrik gula di Madura bisa mulai dibangun, kata dia, jika pengembangan lahan sudah mencapai 5.000 hektare. Dengan luas tersebut, rintisan pabrik gula bisa dibangun dengan kapasitas giling 4.000 ton tebu per hari (TTH) yang bisa dikembangkan ke kapasitas 6.000 TTH.

Posted in Press Release

Terdapat 0 komentar

Silahkan tambahkan komentar