Mengawal Sistem Akan Membentuk Karakter Karyawan (Bagian II)

Terbit pada Jumat, 22 Mei 2015

Nampaknya muara dari segala permasalahan yang akan kita hadapi adalah pada kompetensi SDM kita. Kita tahu bahwa selama ini karyawan PTPN X yang sebagian besar tersebar di unit-unit usaha gula khususnya sudah terbiasa dengan  peralatan pabrik dengan teknologi jadul. Fakta bahwa terbiasa dengan peralatan jadul  membawa mereka juga berpikir jadul, berperilaku jadul, dan pada akhirnya berparadigma jadul. Terbukti ketika teknologi baru dihadapkan pada mereka dibutuhkan waktu, tenaga dan biaya yang tidak sedikit untuk beradaptasi. (Kasus PG KB, TK dan DB). Lalu dengan begitu apakah para karyawan itu salah? Sama sekali tidak!

Justru dari situlah kita wajib mengambil pelajaran berharga. Pelajaran bahwa segalanya bisa dan harus kita persiapkan sebaik-baiknya sejak dini. Kompetensi teknis (hard skill) harus segera kita berikan secepatnya. Kita harus menyadari bahwa SDM adalah kunci keberhasilan atau kegagalan kita, maka tidak kalah pentingnya membekali soft skill pada semua karyawan PTPN X.

Soft skill yang seperti apa dan bagaimana cara menanamkannya?

Meminjam istilah Steven Covey dalam bukunya 7 Habits of  Highly Effective People bahwa tim yang bagus terdiri dari orang-orang yang berkarakter bagus. Berkarakter bagus di sini dimaksud-kan orang-orang yang mampu menjadi pribadi yang saling tergantung (interdependent). Nah, orang-orang yang mampu bersikap  interdependent ini harus terlebih dulu menjadi pribadi yang independent. Minimal dua karakter tersebut (independent dan interdependent) yang harus kita bangun dalam diri setiap pribadi karyawan PTPN X.

Pribadi independent adalah pribadi yang mampu berpikir mandiri, mampu bertindak mandiri, dan secara keseluruhan sudah selesai dengan diri mereka sendiri. Orang yang pasif dalam pekerjaan, masih mencari-cari keuntungan pribadi dalam setiap kesempatan, masih merasa iri dengan rejeki orang lain adalah orang-orang yang belum selesai dengan diri mereka sendiri. Pribadi-pribadi semacam itu hanya akan membebani kalau masuk di dalam tim.

Pertanyaannya apabila pribadi-pribadi dengan karakter negatif tersebut masih ada di dalam organisasi, lalu langkah apa yang harus kita tempuh?

Kembali menyitir kata-kata bijak yang dikutip Steven Covey dalam buku yang sama :

            Tanamlah Pikiran – Tuailah Perbuatan

            Tanamlah Perbuatan – Tuailah Kebiasaan

            Tanamlah Kebiasaan – Tuailah Karakter

            Tanamlah Karakter – Tuailah Nasib

Lalu ada lagi adagium manajemen yang mengatakan bahwa kejujuran, disiplin dan sikap baik lainnya tidak bisa diharapkan begitu saja muncul pada diri setiap orang, mereka harus diciptakan lewat sistem.

Dari kata bijak dan adagium di atas bisa kita simpulkan bahwa karakter sebenarnya bermula dari pikiran => tindakan => kebiasaan => karakter. Artinya karakter itu bisa diubah dan untuk mengubahnya diperlukan sebuah sistem yang tepat. (Ayub Heri_PG Meritjan, OPI_Corcom)

Number 23 of the Best 30 LKTI 2015

Posted in Artikel

Terdapat 0 komentar