Leadership Adalah Tentang Persetujuan Dari Yang Dipimpin

Terbit pada Rabu, 18 Januari 2017

Leadership membutuhkan persetujuan dari bawahan sebagai sosok yang dipimpin. Mengapa demikian?  Tanpa adanya persetujuan dari yang dipimpin, maka seorang pemimpin akan mendapatkan kesulitan dalam mengarahkan bawahannya. Sehingga mengakibatkan program yang sudah dicanangkan tidak dapat berjalan dengan baik.

Karena itu seorang pemimpin harus dapat menunjukkan ke bawahannya, bahwa mereka adalah sosok yang pantas untuk memimpin dan memberi arahan untuk menuju arah yang lebih baik lagi.

Seorang bawahan membutuhkan role model yang tepat dalam menjalankan pekerjaannya. Dan itu harus mereka dapatkan dari sosok pemimpinnya. Jika seorang pemimpin tidak dapat menjadi role model yang baik, bisa dipastikan bawahannya tidak akan patuh 100%. Mereka akan memiliki anggapan, "lha wong pimpinanku aja seperti itu, maka normal saja saya juga tidak akan bekerja dengan baik" atau "untuk apa menuruti perintah pimpinan yang integritasnya juga tidak ada, capek sendiri".

Nah, sebagai seorang pemimpin, bagaimana cara yang terbaik untuk memimpin? Menurut seorang pakar kepemimpinan, rahasia termudah untuk menjadi pemimpin yang baik adalah dengan Get Trust dan Ask.

Get Trust

Sebelum memulai melaksanakan tugas sebagai seorang pemimpin, mereka harus menceritakan terlebih dahulu siapa mereka, bagaimana cara mereka memimpin dan apa harapan mereka kepada bawahannya.

Ketika seorang pemimpin melakukannya, maka bawahan mereka akan menganggap pemimpinnya adalah orang yang open mind atau terbuka. Dampaknya adalah mereka akan menjadi lebih terbuka dalam menyuarakan ide dan aspirasinya

Dalam kondisi tersebut suasana bekerja di dalam sebuah Perusahaan akan menjadi semakin kondusif. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan produktivitas di dalam pekerjaan. Bukankah salah satu peran dari seorang pemimpin adalah untuk meningkatkan produktivitas kerja dari bawahannya.

Ask

Seorang pemimpin perlu menanyakan kepada bawahannya tentang apa yang dapat membuat mereka bisa bekerja dengan optimal.

Tentu maksud dari pertanyaan ini bukanlah untuk membuat seorang bawahan dapat menyampaikan permintaannya melebihi dari peraturan yang sudah ditetapkan oleh perusahaan. Selalu ada batas yang sudah ditetapkan dan digarisbawahi dari peraturan yang sudah dikeluarkan oleh Perusahaan.

Tetapi maksud dari pertanyaan ini adalah supaya setiap karyawan dapat bekerja dengan nyaman dan optimal dengan tujuan akhir adalah mencapai target yang sudah dicanangkan oleh perusahaan.

Berikut adalah beberapa contoh pertanyaan yang bisa dikemukakan kepada bawahan:

  1. Apa yang harus kami lakukan yang belum kami lakukan saat ini, yang dapat meningkatkan performa Anda dalam bekerja?
  2.  Apa yang harus kami hentikan yang sudah kami lakukan saat ini, yang dapat menghambat Anda mencapai performa maksimal dalam bekerja?
  3. Apa yang harus tetap kami lakukan dalam memimpin Anda, supaya Anda dan divisi Anda dapat mencapai performa terbaik?

Selain kedua cara di atas ask & get trust, ada metode yang dapat meningkatkan persetujuan dari seorang bawahan untuk dipimpin oleh pemimpinnya. Yaitu dengan membuat daftar hitam dan putih.

Buatlah sebuah daftar yang berisikan hal-hal yang kita sukai dari pemimpin kita dan lakukan kepada bawahan kita. Kemudian buatlah daftar lainnya yang berisikan hal-hal yang tidak kita sukai dari pemimpin kita dan hindari melakukannya kepada bawahan kita.

Setiap dari kita tentu pernah berinteraksi dengan seorang pemimpin. Dan harus diakui ada hal-hal yang kita sukai dan tidak. Daftar yang kita buat di atas sangat bermanfaat saat kita menjadi seorang pemimpin. Apakah kita akan melakukan hal yang kita sendiri tidak menyukainya saat menjadi seorang bawahan?

Semoga setiap pemimpin semakin memahami bahwa untuk memimpin seseorang membutuhkan persetujuan dari yang dipimpin. Dan mendapatkan kepercayaan dari bawahan merupakan langkah awal untuk memimpin dan mengarahkan mereka sejalan dengan target yang telah ditetapkan oleh Perusahaan. (Rehandy Prismawan

_ENERO)

Sumber Penulisan:

Internal training karyawan,  "Mindset Building For Organizational Development".

Posted in Artikel

Terdapat 0 komentar