Belajar dari Arti Filosofis Lambang GE

Terbit pada Rabu, 14 Januari 2015

Kita semua pasti tahu produk lampu dari General Elektric. Jika tidak menggunakan salah satunya sebagai bagian properti pendukung rumah kita, pasti kita sudah melihat iklannya di TV. General Electric Company, atau GE, NYSE. GE adalah sebuah perusahaan multinasional teknologi dan jasa Amerika Serikat yang bermarkas di New York. Perusahaan ini didirikan pada tahun 1890 oleh Thomas A Edison. Berdasarkan survey kapital pasar, GE adalah perusahaan terbesar kedua di dunia, dan kedua pada Peringkat BrandZ ( Wikipedia ). Namun jika kita perhatikan, sosok jenius Edison tidak hanya memberikan konsep teknis dari GE tapi juga aspek industri dan manajemen yang detail. Sebuah konsep yang digunakan oleh banyak perusahaan modern saat ini.

Logo General Electric sekilas memang terlihat seperti huruf “g” dan “E”, atau singkatan dari nama perusahaan tersebut. Tapi sebenarnya logo tersebut adalah logo yang biasa digunakan dalam ilmu statistik. Bagi kita yang belajar statistik mungkin sudah tidak asing dengan Sigma Quality. Simbol tersembunyi dari logo GE adalah “Six Sigma.

 

Sigma Quality adalah Strategi yang merupakan metode sistematis yang menggunakan pengumpulan data dan analisis statistik untuk menentukan sumber-sumber variasi dan cara-cara untuk menghilangkannya (Harry dan Scroeder, 2000). Yang harus menjadi perhatian kita adalah menentukan varian (variasi produk), menghitung dan mengelola risiko.

Six Sigma mempunyai dua arti penting, yaitu:

  • Six Sigma sebagai filosofi manajemen

Six Sigma merupakan kegiatan yang dilakukan oleh semua anggota perusahaan yang menjadi budaya dan sesuai dengan visi dan misi perusahaan. Tujuannya meningkatkan efisiensi proses bisnis dan memuaskan keiginan pelanggan, sehingga meningkatkan nilai perusahaan.

  • Six Sigma sebagai sistem pengukuran

Six Sigma sesuai dengan arti sigma, yaitu distribusi atau penyebaran (variasi) dari rata-rata (mean) suatu proses atau prosedur. Six Sigma diterapkan untuk memperkecil variasi (sigma). Six Sigma sebagai sistem pengukuran menggunakan Defect per Million Oppurtunities (DPMO) sebagai satuan pengukuran. DPMO merupakan ukuran yang baik bagi kualitas produk ataupun proses, sebab berkorelasi langsung dengan cacat, biaya dan waktu yang terbuang.

Arti sederhana dari Six Sigma adalah, “dari 1 juta produk GE, yang boleh cacat hanyalah 3 produk”. Hal tersebut merupakan target dan filosofis perusahaan GE yang harus disepakati oleh seluruh eksekutif dan karyawannya di seluruh dunia, dan kabarnya GE sangat disiplin dengan prinsip tersbut. Sehingga apapun yang dilakukan oleh seluruh staf produksi dan seluruh karyawan pendukung GE akan mengusahakan untuk .

Ada enam hal yang harus bisa diperbaiki dalam manajemen Six Sigma :

  1. 4. Resistensi pelanggan
  2. 5. Pengurangan waktu siklus
  3. 6. Pengurangan cacat dan pengembangan produk

Dan ada empat stakeholder yang terlibat dalam Six Sigma yaitu :

  1. Executive Leaders adalah pihak yang berkomitmen mewujudkan Six Sigma.
  2. Champions adalah pihak yang menentukan keberhasilan atau kegagalan suatu proyek Six Sigma. Champion adalah gabungan antara para direksi dan pejabat puncak.
  3. Master Black Belt adalah pihak yang memiliki kemampuan untuk melatih Black Belt. Pihak ini adalah para mentor dan sumber pengetahuan sebagai acuan bagi Black Belt melakukan tugasnya.
  4. Black Belt adalah tulang punggung budaya dan pusat keberhasilan Six Sigma, mereka adalah para pemimpin project dan yang memiliki kemampuan mengubah teori ke tindakan.

5. Green Belt adalah mereka yang membantu Black Belt mensukseskan Six Sigma.

            Dari logo GE di atas, kita sebagai perusahaan yang berkembang bisa mencontoh filsosfi yang baik yang sekiranya bisa digunakan di perusahaan ini. Bisa jadi kita memulainya bukan dari Six Sigma terlebih dahulu, namun Five Sigma (233 cacat dari 1 juta), Four Sigma (6210 cacat dari 1 juta), atau yang lebih rendah untuk bisa menuju ke Six Sigma. Namun yang terpenting, semua elemen karyawan harus memahami arti filosofis dan tujuan dari perusahaan agar semua stakeholder bisa saling bahu membahu dalam satu kesatuan menuju kesuksesan. (M. Syaiful Rizal_IT, OPI_Corcom)

 

Referensi:

Harry dan Scroeder. 2000. Statistic for Management. Pearson Education

Posted in Artikel

Terdapat 0 komentar