9-Box Model Untuk Pengembangan Potensi dan Kinerja Karyawan

Terbit pada Senin, 10 September 2018

Terkadang hasil asesmen karyawan tidak sesuai dengan kinerja yang diinginkan perusahaan. Karyawan yang memiliki hasil asesmen baik, dalam beberapa kasus melaksanakan tanggung jawabnya kurang efektif ataupun sebaliknya. Sehingga menjadi pertanyaan apakah proses asesmen kurang memberikan gambaran karyawan yang sesuai?

Pada dasarnya asesmen memang tidak mengukur kinerja, melainkan potensi karyawan. Namun asesmen memang diperlukan untuk mencari karyawan yang sesuai dengan kemampuannya, sehingga diharapkan menjadi good performer di perusahaan.

Sebagai upaya untuk menjembatani hasil asesmen dengan kinerja, maka diperlukan alat atau metode untuk menilai kinerja karyawan serta mengembangkan potensinya untuk perusahaan. Salah satunya dengan 9-box matrix. Metode ini dikembangkan pertama kali oleh McKinsey pada tahun 1960-an untuk membantu menilai potensi individu dalam bisnis milik GE.

Matriks ini bertujuan mengevaluasi kinerja dan merencanakan karyawan untuk  menempati jabatan dan peran-peran strategis di perusahaan sesuai potensinya. Sehingga dimensi 9-box ada 2 (dua) yaitu performa karyawan pada masa lalu dan potensi karyawan di masa mendatang. Performa diwakili oleh sumbu X, sedangkan potensi diwakili oleh sumbu Y. Kombinasi dari sumbu X dan Y akan menentukan posisi suatu individu dan menempatkan individu pada kuadran yang berbeda-beda. Pada kuadaran kanan atas, kecenderungan nilai X dan Y akan tinggi, maka individu diidentifikasikan sebagai kandidat yang berpotensi tinggi dalam rencana suksesi perusahaan atau succession planning candidate.

Dalam penggunaannya, terdapat beberapa tahapan yang harus dilakukan antara lain:

  1. Pelajari terlebih dahulu  pengunaan metode 9-box dengan bantuan HR, independen konsultan dan pimpinan yang bertanggung jawab dalam sucession planning
  2. Rapat awal untuk memastikan kesamaan persepsi penggunaan 9-box sehingga masing-masing penilai memiliki pandangan yang sama
  3. Dapatkan informasi-informasi tambahan terkait dengan individu yang dinilai, diluar penilaian formal
  4. Gunakan benchmark untuk membandingkan hasil penilaian anda dengan hasil penilaian yang sudah ada dari perusahaan lain yang menerapkan 9-box
  5. Diskusikan secara inten kandidat berdasar hasil penilaiannya dan coba tempatkan kandidat pada kuadran yang berbeda untuk mengetahui peluang lainnya
  6. Diskusikan apa saja kebutuhan untuk pengembangan perusahaan dan tindak lanjut bagi karyawan yang dinilai
  7. Evaluasi hasil penilaian secara berkala untuk mengetahui tingkat perkembangan karyawan

Dalam talent management, peran 9-box  membantu perusahaan untuk memfokuskan kepada siapa fokus pengembangan individu diberikan. Penggunaan 9 box juga mengurangi penilaian secara subyektif membantu penerapan kriteria karyawan dan low cost. (Ariel_Enero, CIN_Sekper)

 

Sumber:

McCarthy, D, 2018,Thebalancecareers.com: The Nine-Box Matrix for Succession Planning and Developmnet

Kusnadi, M, 2015, SWA: Does Talent Assesment Matter?

 

Posted in Artikel

Terdapat 0 komentar